Rabu, 13 Januari 2021

Panduan Lengkap Budidaya Anggur

Anggur merupakan tanaman buah berupa perrdu yang merambat. Anggur berasal dari Armenia, tetapi budidaya anggur sudah dikembangkan di Timur Tengah sejak 4000 SM. Sedangkan teknologi pengolahan anggur menjadi wine pertama kali dikembangkan orang Mesir pada 2500 SM. Dari Mesir budidaya dan teknologi pengolahan anggur masuk ke Yunani dan menyebar ke daerah Laut Hitam sampai Spanyol, Jerman, Prancis dan Austria. Sejalan dengan perjalanan Columbus anggur dari asalnya ini mulai menyebar ke Mexico, Amerika Selatan, Afrika selatan, Asia termasuk Indonesia dan Australia. Penyebaran ini juga menjadikan Anggur punya beberapa sebutan seperti Grape di Eropa dan Amerika, orang China menyebut Pu tao dan di Indonesia disebut anggur.





Anggur termasuk tanaman marga  Vitis. Tidak semua jenis dari marga  ini  dapat dimakan, yang bisa dimakan hanya dua jenis yaitu Vitis vinifera dan Vitis labrusca.


Tanaman anggur jenis Vitis vinifera mempunyai ciri:

a) Kulit tipis, rasa manis dan segar.

b) Kemampuan  tumbuh  dari dataran  rendah  hingga  300  m  dari  permukaan  laut beriklim kering.

c) Termasuk jenis ini adalah Gros Colman, Probolinggo Biru dan Putih, Situbondo Kuning, Alphonso Lavalle dan Golden Champion.


Tanaman anggur jenis Vitis labrusca mempunya ciri:

a) Kulit tebal, rasa masam dan kurang segar.

b) Kemampuan tumbuh dari dataran rendah hingga 900 m dpl.

c) Termasuk jenis ini adalah Brilliant, Delaware, Carman, Beacon dan Isabella.


Dari kedua jenis ini yang banyak dikembangkan di Indonesia dan direkomendasi oleh Departemen Pertanian sebagai jenis unggul adalah jenis Vitis vinifera dari varietas Anggur Probolinggo Biru dan Alphonso Lavalle. Namun ada juga yang dianjurkan ditanam antara lain Gross Collman, Probolinggo Putih, Isabella, Delaware, Chifung dan Australia.


MANFAAT TANAMAN

Anggur dimanfaatkan sebagai buah segar maupun untuk diolah sebagai jadi produk lain seperti minuman fermentasi hasil perasan anggur yang mengandung alkohol biasa disebut Wine, dikeringkan menjadi kismis dan untuk keperluan industri selai dan jeli.


Lihat juga Video Mengenal Cabe Jamu Yang Buahnya Dihargai 100 Ribu Per Kilogram berikut ini :





SENTRA PENANAMAN

Di  Indonesia  sentra  anggur  terdapat  di  Jawa  Timur  (Probolinggo,  Pasuruan, Situbondo), Bali dan Kupang (NTT).


SYARAT TUMBUH

Iklim

1) Tanaman anggur dapat tumbuh baik di daerah dataran rendah, terutama di tepi-tepi pantai, dengan musim kemarau panjang berkisar 4-7 bulan.

2) Angin yang terlalu kencang kurang baik bagi anggur.

3) Curah hujan rata-rata 800 mm per tahun. Dan keadaan hujan yang terus menerus dapat  merusak  premordia/  bakal perbungaan  yaitu  tengah  berlangsung  serta dapat menimbulkan serangan hama dan penyakit.

4) Sebaiknya   sinar   matahari   yang   banyak/udara   kering   sangat   baik   bagi pertumbuhan vegetatif dan pembuahannya.

5) Suhu rata-rata maksimal siang hari 31 derajat C dan suhu rata-rata minimal malam hari 23 derajat C dengan kelembaban udara 75-80 %.


Media Tanam

1) Tanah  yang  baik  untuk  tanaman  anggur  adalah  mengandung  pasir,  lempung berpasir, subur dan gembur, banyak mengandung humus dan hara yang dibutuhkan.

2) Derajat keasaman tanah yang cocok untuk budidaya anggur adalah 7 (netral).Ketinggian Tempat

Anggur akan tumbuh baik bila ditanam antara 5-1000 m dpl atau di daerah dataran rendah. Perbedaan ketinggian akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya. Jenis Vitis vinifera menghendaki ketinggian  1-300 m  dpl. Jenis Vitis labrusca menghendaki ketinggian 1-800 m dpl.


PEDOMAN BUDIDAYA

Pembibitan

1) Pengadaan Benih

Pengadaan  benih  dapat  dilakukan  dengan  cara  generatif  (biji)  dan  vegetatif (cangkok, stek cabang, stek mata, penyambungan).


Perbanyakan tanaman yang paling efektif anggur adalah dengan menggunakan stek. Bibit stek yang baik adalah :

a) Panjang stek sekitar 25 cm  terdiri atas 2-3 ruas dan diambil dari pohon induk yang sudah berumur di atas satu tahun.

b) Bentuknya bulat berukuran sekitar 1 cm.

c) Kulitnya berwarna coklat muda dan cerah dengan bagian bawah kulit telah hijau, berair dan bebas dari noda-noda hitam.

d) Mata tunas sehat berukuran besar dan tampak padat. Mata tunas yang tidak sehat ukurannya kecil dan ujungnya tampak memutih seperti kapuk.


2) Teknik Penyemaian Benih


Cara generatif bibit disemai di tempat yang telah disediakan. Cara vegetatif (stek)

yaitu :

a) Pembibitan dikerjakan dengan menyemaikan lebih dulu dalam pot /keranjang sempai kira-kira selama 5 hari

b) Setelah itu dipindah ke media semai berupa campuran tanah, pupuk kandang dan pasir    dengan    perbandingan    1:1:1.   


Media    semai    ini    berupa polybag/keranjang yang lebih besar dari tempat awal.


3) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian

a) Selama di persemaian selalu disiram dan jangan sampai tergenang.

b) Penyemaian bibit di tempat teduh dan lembab selama sekitar 2 bulan.


4) Pemindahan Bibit

a) Sekitar 2 bulan tersebut bibit sudah tumbuh dan berakar banyak siap untuk dipindah ke lapangan dengan memilih yang segar dan sehat kondisinya.

b) Penanaman dilakukan di awal musim kemarau/saat panas tertinggi.


Pengolahan Media Tanam


1) Persiapan

Persiapan yang perlu dilakukan adalah:

a) Menentukan lokasi penanaman. 

b) Menentukan luas areal tanam.

c) Mengatur jarak tanam.

d) Membuat lubang tanam.

e) Menentukan dosis pupuk kandang yang diperlukan.


2) Pembukaan Lahan

Lahan yang digunakan dibersihkan dan tidak terlindung dari sinar matahari. Pencangkulan untuk pembuatan lubang tanam dilakukan setelah ada pengaturan jarak tanam yang sesuai dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm. Lubang dibiarkan terkena sinar matahari selama 2-4 minggu.


3) Pengapuran

Pengapuran hanya dilakukan bila pH tanah rendah/terlalu asam.


4) Pemupukan

Setelah 2-4 minggu lubang tanam diisi pupuk kandang, pasir dan tanah dengan perbandingan 2:1:1.


Teknik Penanaman


1) Penentuan Pola Tanam

Tanaman anggur merupakan tanaman monokultur. Pengaturan jarak tanam penting diperhatikan dan juga sesuai dengan larikan karena arah datangnya angin sangat besar pengaruhnya. Jarak tanam bisa diatur dengan pola: 3 x 3 m, 4 x 4 m, 3 x 5 m, 3 x 4 m, 4 x 5 m, 4 x 5 m, 3 x 5 m dan  4 x 6 m


Jarak tanam mempengaruhi jumlah tanaman persatuan luas :

a) 3 x 3 m untuk 1 Ha = 1.111 pohon b) 3 x 4 m untuk 1 Ha =    833 pohon c) 3 x 5 m untuk 1 Ha =    666 pohon d) 4 x 4 m 

untuk 1 Ha =    625 pohon e) 4 x 5 m untuk 1 Ha =    500 pohon f)  4 x 6 m untuk 1 Ha =    416 pohon


2) Pembuatan Lubang Tanam

Lubang tanam yang diperlukan berukuran 60 x 60 x 60 cm yang disesuaikan dengan jarak tanam, isi lubang berupa campuran tanah, pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1 atau 1:1:2.


3) Cara Penanaman

Penanaman bibit anggur terbaik pada saat musim kemarau, sekitar Juni dan Juli. Setiap   tanaman   perlu   lahan   20   m²   termasuk   para-paranya   yang   harus dipersiapkan sebelum tanamannya tumbuh. Para-para ini berguna untuk merayapkan batang dan cabangnya secara mendatar pada ketinggian 2 m. Setiap tanaman juga diberi ajir bambu untuk titian setelah bibit ditanam, agar pertumbuhannya dapat menjalar ke atas menuju para-para.


Pemeliharaan Tanaman


1) Penyulaman dan Penjarangan


Penyulaman hanya dilakukan bila terdapat tanaman yang tidak sehat/mati. Pengontrolan dilakukan rutin bersamaan saat penyiraman karena anggur perlu perhatian kontinyu.


Penjarangan buah sangat penting karena buah yang terlalu rapat justru merusak perkembangan buah dan menurunkan kualitas buah. Dalam penjarangan buah- buah yang perlu dibuang adalah: (1) yang bertangkai panjang; (2) tidak sempurna bentuknya; (3) buah yang ada di sebelah dalam; (4) buah yang terbentuk tanpa adanya persarian.


Penjarangan dilakukan dalam dua tahap, tahap satu saat umur satu bulan setelah pembungaan dan buah masih pentil, tahap dua dilakukan dua minggu setelah tahap satu dan buah sebesar biji jagung. Untuk menjaga kualitas buah, juga perlu dilakukan pembrongsongan (pembungkusan) buah. Pembungkusan dilakukan bila dalam satu dompol buah sudah ada dua atau tiga buah yang masak. Bahan yang umum dipakai bungkus adal kertas semen dan kertas koran.


2) Penyiangan

Penyiangan dilakukan bila terdapat tanaman pengganggu sekitar tanaman anggur.


3) Perempalan

a) Perempalan bentuk pada anggur dilakukan mulai tanam sampai umur 1 tahun, bertujuan untuk mendapat pertumbuhan yang baik, dengan cara membuang tunas yang tidak perlu dan membiarkan satu tunas yang baik sebagai batang pokok.

b) Perempalan  untuk  pembuahan  dilakukan  setelah  anggur  berumur  1  tahun.

Sebelum perempalan diperiksa dahulu dengan memotong ujung  salah  satu cabang, bila meneteskan air perempalan dilaksanakan, tetapi bila tidak harus ditunda. Perempalan dilakukan dengan memotong ranting-ranting, dengan meninggalkan 2-4 mata tunas dan semua daun dibuang sehingga tanaman jadi gundul. Dalam 1 tahun dilakukan 3 kali perempalan:

1. Tahap I    :   Maret-April, 90-110 hari

2. Tahap II   :   Juli-Agustus, 90-110 hari

3. Tahap III  :   Nov-Des, tahap ini sering gagal

Perempalan antara bulan November-Desember, tidak memperoleh hasil. Tujuannya hanya untuk memelihara tingkat kesuburan tanaman sampai musim hujan berakhir dan tanaman tidak rusak.


4) Pemupukan

Ada dua masa pemupukan:

a) Pemupukan tanaman muda (0-1 tahun)

1. Umur 0-3 bulan, 10 gram urea, interval 10 hari

2. Umur 3-6 bulan, 15 gram urea, interval 15 hari

3. Umur 6-12 bulan, 50 gram urea

Cara  pemberian  dengan  membuat  larikan  melingkar  sekeliling  tanaman diameter 10-20 cm sedalam 5 cm.


b) Pemupukan tanaman dewasa (1-seterusnya)

1. Umur 21 hari sebelum perempalan, 5 kaleng pupuk kandang

2. Umur 11 hari sebelum perempalan, 80 gram TSP/100 gram ZK

3. Umur 7 hari sebelum perempalan, 100 gram urea

Pupuk kandang diberikan sekali setahun, tahun kedua dosis dinaikkan jadi 10 kaleng. Pupuk buatan dinaikkan dosisnya urea 600 gram, TSP 300 gram, ZK 450 gram. Cara pemberian dengan pembuatan larikan sekitar tanaman dengan diameter 1,5 m.


5) Pengairan dan Penyiraman


Yang perlu diperhatikan adalah:

a) Anggur tidak tahan pada air yang tergenang.

b) Anggur   butuh   pengairan   yang   harus   dilakukan   mulai   tanam   sampai pemangkasan.

c) Menjelang  pemangkasan,   3-4  minggu   sebelumnya   pemberian  air   harus dihentikan.

d) Setelah masa pemangkasan, 2-3 hari sebelumnya diberi air kembali sampai ujung ranting mengeluarkan air.

e) Pemberian  dilakukan  sampai  buahnya  hampir  masak,  setelah  mulai  tua pemberian air dihentikan supaya buah tidak pecah dan busuk.


6) Waktu Penyemprotan Pestisida

Penyemprotan insektisida dilakukan sebagai pencegahan terhadap hama yang mengganggu pada anggur. Penyemprotan harus dihentikan 15 hari sebelum panen. Khusus untuk hama Phyiloxera  Vitifolia  digunakan  insektisida Furadan 3G/Temik 1 OG.


7) Pengaturan Bunga

Setelah dua minggu pemangkasan pembuahan, cabang tersier yang baru tumbuh mengeluarkan sulur-sulur pembentukan bunga yang keluar dari mata ke 3, 4 dan 5. Bila ada cabang tersier yang tidak mengeluarkan sulur   dapat diadakan pemotongan dengan meninggalkan 3 mata bertujuan untuk merangsang pertumbuhan sulur. Cabang tersier yang baru muncul disisakan satu sulur saja, agar menghasilkan dompol bunga yang besar dan buahnya bisa bermutu tinggi.


HAMA DAN PENYAKIT


Hama


1) Phylloxera Vitifolia

Menyerang tanaman anggur baik muda maupun tua berakibat anggur jadi kering dan mati. Yang diserang adalah daun dan akar tanaman secara langsung. Gejala umum pada daun terbentuk bisul-bisul kecil dan akar membengkak seperti kutil. Hama ini menetap di bawah kulit batang yang terkelupas dan dalam jaringan akar.


2) Kumbang Apogonia destructor

Bentuk kumbang kecil dan warna hitam mengkilat. Menyerang daun anggur pada malam hari dan kumbang ini mudah tertarik oleh sinar lampu.


3) Wereng daun

Serangan  wereng  ini  menyebabkan  daun  anggur  berbintik  putih,  kemudian menjadi kuning coklat dan gugur.


4) Kutu putih

Dapat menyebabkan pucuk/tunas menjadi kerdil.


5) Ulat daun

Menyerang daun untuk dijadikan makanannya.


6) Rayap

Serangan yang paling parah bila menggerogoti akar tanaman yang masih muda sehingga membuat jadi layu dan akhirnya mati.


7) Burung, kalong, bajing dan musang

Menyerang buah yang mulai masak untuk dijadikan makanannya.


Cara   untuk   memberantas   hama   anggur   dilakukan dengan menyemprotkan insektisida pada bagian yang terkena serangan. Penyemprotan dilakukan secara rutin  dan  dihentikan  menjelang  masa  petik.  Khusus  hama  Phyloxera  vitifolia dilakukan dengan menyiramkan insektisida di sekeliling tanaman. Penyiraman bisa dilakukan sebelum tanam, setelah tanam/setelah panen. Sedangkan untuk menanggulangi hama dari hewan besar dapat memakai jebakan.


Penyakit


1) Downy Mildew (jamur)

Gejalanya daun nampak kuning bagian bawah terlihat ada tepung warna putih- kuning. Daun, bunga maupun tandan muda bisa mati bila terkena penyakit ini terutama saat musim penghujan atau kelembaban yang tinggi.


2) Powdery Mildew

Pada  permukaan  daun  terdapat  bedak  tipis  putih  kelabu.  Menyerang  pucuk, bunga dan buah muda bahkan dapat merusak ranting sehingga jadi kerdil dan rusak.


3) Penyakit busuk hitam

Menyebabkan buah jadi keriput, busuk dan gugur.


4) Phakospora Vitis

Daun sebelah bawah tertutup tepung berwarna orange (massa sporanya).


5) Peronospora

Bila udara terlalu lembab jamur ini menyerang daun anggur dan dapat dikenali karena spora berwarna kuning di bawah daun.


Untuk memberantas penyakit anggur dilakukan dengan menyemprotkan fungisida dengan waktu a sebelum masa berbunga, setelah berbunga dan 8-12 hari sesudah penyemprotan  kedua  setelah  berbunga.  Sedang  untuk  penyakit  busuk  hitam penyemprotan dilakukan sebelum masa berbunga, saat berbunga dan 2 minggu sebelum masa petik.


PANEN


Ciri dan Umur Panen

Umur panen anggur tergantung jenis yang ditanam, iklim dan tinggi tempat. Untuk daerah rendah umur buah 90-100 hari setelah pangkas, daerah dataran tinggi umur buah antara 105–110 hari. Tingkat kemasakan buah yang baik untuk dipanen adalah warna dalam  satu  tandan  telah  rata,  butir  buah  mudah  lepas  dari  tandan  dan keadaan buah kenyal serta lunak.


Cara Panen

Cara panen dilakukan dalam cuaca yang cerah dan di pagi hari dengan pemetikan yang hati-hati (jangan sampai bedak hilang). 


Hasil pemetikan dimasukkan keranjang/dos karton diusahakan penempatannya tidak menumpuk, agar buah yang terletak di bawah tidak rusak dan pecah.


Periode Panen

Tanaman anggur dalam satu tahun mengalami dua kali panen.


Prakiraan Produksi

Dari areal tanaman anggur 1 ha dengan rasio jarak tanam 4 x 5, jumlah tanaman 500 batang dengan hasil panen per tahun rata-rata 7.500 kg anggur.


PASCAPANEN


Pengumpulan

Pengumpulan   anggur  tidak   boleh  ditumpuk   karena   dapat   merusak   buah   di bawahnya. Hal yang penting bedak yang terdapat pada anggur dijaga agar tidak hilang.


Penyortiran dan Penggolongan

Penyortiran dilakukan dengan menyingkirkan buah yang rusak dan buah yang masih terlalu muda dalam satu dompolan. Kemudian anggur digolongkan menurut ukuran dompolan dan keseragaman besar buah.


Penyimpanan

Cara terbaik dalam penyimpanan adalah dengan memasukkan dalam ruang pendingin untuk mengurangi penguapan, tetapi cara yang mudah, ringkas dan kapasitas penyimpanan besar adalah dengan menggantung anggur untuk diangin- anginkan dalam ruang yang sejuk.


Pengemasan dan Pengangkutan

Cara menggunakan keranjang bambu dilapisi kertas koran.  cara  ini kurang baik karena banyak buah yang rusak. Cara terbaik dengan menggunakan kotak kayu yang diisi dengan serbuk gergaji sehingga kerusakan buah dapat ditekan saat pengangkutan.

Share:

Senin, 11 Januari 2021

Panduan Lengkap Budidaya Jeruk Agar Cepat Berbuah

Tanaman jeruk adalah tanaman buah tahunan yang berasal dari Asia. Cina dipercaya sebagai tempat pertama kali jeruk tumbuh. Sejak ratusan tahun yang lalu, jeruk sudah tumbuh di Indonesia baik secara alami atau dibudidayakan. Tanaman jeruk yang ada di Indonesia adalah peninggalan orang Belanda yang mendatangkan jeruk manis dan keprok dari Amerika dan Itali.





Klasifikasi botani tanaman jeruk adalah sebagai berikut: 

Divisi         : Spermatophyta

Sub divisi   : Angiospermae 

Kelas         : Dicotyledonae 

Ordo          : Rutales 

Keluarga    : Rutaceae 

Genus        : Citrus

Spesies      : Citrus sp.


Jenis jeruk lokal yang dibudidayakan di Indonesia adalah jeruk Keprok (Citrus reticulata/nobilis L.), jeruk Siem (C. microcarpa L. dan C.sinensis. L) yang terdiri atas Siem Pontianak, Siem Garut, Siem Lumajang, jeruk manis (C. auranticum L. dan C.sinensis L.), jeruk sitrun/lemon (C. medica), jeruk besar (C.maxima Herr.) yang terdiri atas jeruk Nambangan-Madium dan Bali. Jeruk untuk bumbu masakan yang terdiri atas jeruk nipis (C. aurantifolia), jeruk Purut (C. hystrix) dan jeruk sambal (C. hystix ABC).


Jeruk varietas introduksi yang banyak ditanam adalah varitas Lemon dan Grapefruit. Sedangkan varitas lokal adalah jeruk siem, jeruk baby, keprok medan, bali, nipis dan purut.


MANFAAT TANAMAN

1) Manfaat  tanaman  jeruk  sebagai  makanan  buah  segar  atau  makanan  olahan, dimana kandungan vitamin C yang tinggi.

2) Di Beberapa negara telah diproduksi minyak dari kulit dan biji jeruk, gula tetes, alkohol dan pektin dari buah jeruk yang terbuang. Minyak kulit jeruk dipakai untuk membuat minyak wangi, sabun wangi, esens minuman dan untuk campuran kue.

3) Beberapa jenis jeruk seperti jeruk nipis dimanfaatkan sebagai obat tradisional penurun panas, pereda nyeri saluran napas bagian atas dan penyembuh radang mata.


SENTRA PENANAMAN

Sentra  jeruk  di  Indonesia  tersebar  meliputi:  Garut  (Jawa  Barat),  Tawangmangu (Jawa Tengah), Batu (Jawa Timur), Tejakula (Bali), Selayar (Sulawesi Selatan), Pontianak  (Kalimantan  Barat)  dan  Medan  (Sumatera  Utara).  Karena  adanya serangan virus CVPD (Citrus Vein Phloen Degeneration), beberapa sentra penanaman mengalami penurunan produksi yang diperparah lagi oleh sistem monopoli tata niaga jeruk yang saat ini tidak berlaku lagi.


SYARAT TUMBUH

Iklim

1) Kecepatan angin yang lebih dari 40-48% akan merontokkan bunga dan buah. Untuk daerah yang intensitas dan kecepatan anginnya tinggi tanaman penahan angin lebih baik ditanam berderet tegak lurus dengan arah angin.

2) Tergantung pada spesiesnya, jeruk memerlukan 5-6, 6-7 atau 9 bulan basah (musim hujan). Bulan basah ini diperlukan untuk perkembangan bunga dan buah agar tanahnya tetap lembab. Di Indonesia tanaman ini sangat memerlukan air yang cukup terutama di bulan Juli-Agustus.

3) Temperatur optimal antara 25-30 derajat C namun ada yang masih dapat tumbuh normal pada 38 derajat C. Jeruk Keprok memerlukan temperatur 20 derajat C.

4) Semua jenis jeruk tidak menyukai tempat yang terlindung dari sinar matahari.

5) Kelembaban optimum untuk pertumbuhan tanaman ini sekitar 70-80%.


Lihat Juga Video Rahasia Tanaman Jeruk Usia Diatas 6 Tahun Tetap Berbuah Lebat berikut ini :





Media Tanam

1) Tanah yang baik adalah lempung sampai lempung berpasir dengan fraksi liat 7-27%, debu 25-50% dan pasir < 50%, cukup humus, tata air dan udara baik.

2) Jenis tanah Andosol dan Latosol sangat cocok untuk budidaya jeruk.

3) Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang cocok untuk budidaya jeruk adalah 5,5–6,5 dengan pH optimum 6.

4) Air tanah yang optimal berada pada kedalaman 150–200 cm di bawah permukaan tanah. Pada musim kemarau 150 cm dan pada musim hujan 50 cm. Tanaman jeruk menyukai air yang mengandung garam sekitar 10%.

5) Tanaman jeruk dapat tumbuh dengan baik di daerah yang memiliki kemiringan sekitar 300.


Ketinggian Tempat

Tinggi tempat dimana jeruk dapat dibudidayakan   bervariasi dari dataran rendah sampai tinggi tergantung pada spesies:

1) Jenis Keprok Madura, Keprok Tejakula: 1–900 m dpl.

2) Jenis Keprok Batu 55, Keprok Garut: 700-1.200 m dpl.

3) Jenis Manis Punten, Waturejo, WNO, VLO: 300–800 m dpl.

4) Jenis Siem: 1–700 m dpl.

5) Jenis Besar Nambangan-Madiun, Bali, Gulung: 1–700 m dpl.

6) Jenis Jepun Kasturi, Kumkuat: 1-1.000 m dpl.

7) Jenis Purut: 1–400 m dpl.


PEDOMAN BUDIDAYA

Pembibitan

1) Persyaratan Bibit

Bibit jeruk yang biasa ditanam berasal dari perbanyakan vegetatif berupa penyambungan tunas pucuk. Bibit yang baik adalah yang bebas penyakit, mirip dengan induknya (true to type), subur, berdiameter batang 2-3 cm, permukaan batang halus, akar serabut banyak, akar tunggang berukuran sedang dan memiliki sertifikasi penangkaran bibit.


2) Penyiapan Bibit

Bibit  yang  biasa  digunakan  untuk  budidaya  jeruk  didapatkan  dengan  cara generatif dan vegetatif.


3) Teknik Penyemaian Bibit a) Cara generatif

Biji diambil dari buah dengan cara memeras buah yang telah dipotong. Biji dikeringanginkan di tempat yang tidak disinari selama 2-3 hari hingga lendirnya hilang.


Areal persemaian memiliki tanah yang subur. Tanah diolah sedalam 30-4- cm dan dibuat petakan persemaian berukuran 1,15-1,20 m membujur dari utara ke selatan. Jarak petakan 0,5-1 m. Sebelum ditanami, tambahkan pupuk kandang 1 kg/m2.


Biji ditanam dalam alur dengan jarak tanam 1-1,5 x 2 cm dan langsung disiram. Setelah tanam, persemaian diberi atap. Bibit dipindahtanam ke dalam polibag 15 x 35 cm setelah tingginya 20 cm pada umur 3-5 bulan. Media tumbuh dalam polibag  adalah  campuran  pupuk  kandang  dan  sekam  (2:1)  atau  pupuk kandang, sekam, pasir (1:1:1).


b) Cara Vegetatif

Metode yang lazim dilakukan adalah penyambungan tunas pucuk dan penempelan mata tempel. Untuk kedua cara ini perlu dipersiapkan batang bawah (onderstam/rootstock) yang dipilih dari jenis jeruk dengan perakaran kuat dan luas, daya adaptasi lingkungan tinggi, tahan kekeringan, tahan/toleran terhadap penyakit virus, busuk akar dan nematoda. Varietas batang bawah yang biasa digunakan oleh penangkar adalah Japanese citroen, Rough lemon, Cleopatra, Troyer Citrange dan Carizzo citrange.


Pengolahan Media Tanam

Tanaman jeruk ditanam di tegalan tanah sawah/di lahan berlereng. Jika ditanam di suatu bukit perlu dibuat sengkedan/teras. Lahan yang akan ditamani dibersihkan dari tanaman lain atau sisa-sisa tanaman. Jarak tanam bervariasi untuk setiap jenis jeruk dapat dilihat pada data berikut ini:

1) Keprok dan Siem  : jarak tanam 5 x 5 m

2) Manis                  : jarak tanam 7 x 7 m

3) Sitrun (Citroen)   : jarak tanam 6 x 7 m

4) Nipis                   : jarak tanam 4 x 4 m

5) Grape fruit          : jarak tanam 8 x 8 m

6) Besar                 : jarak tanam (10-12) x (10-12) m


Lubang tanam hanya dibuat pada tanah yang belum diolah dan dibuat 2 minggu sebelum tanah. Tanah bagian dalam dipisahkan dengan tanah dari lapisan atas tanah (25 cm). 


Tanah  berasal dari lapisan  atas  dicampur dengan  20  kg pupuk kandang. Setelah penanaman tanah dikembalikan lagi ke tempat asalnya. Bedengan (guludan) berukuran 1 x 1 x 1 m hanya dibuat jika jeruk ditanam di tanah sawah.


Teknik Penanaman

Bibit jeruk dapat ditanam pada musim hujan atau musim kemarau jika tersedia air untuk menyirami, tetapi sebaiknya ditanam diawal musim hujan. Sebelum ditanam, perlu dilakukan:

1) Pengurangan daun dan cabang yang berlebihan.

2) Pengurangan akar.

3) Pengaturan posisi akar agar jangan ada yang terlipat.


Setelah bibit ditaman, siram secukupnya dan diberi mulsa jerami, daun kelapa atau daun-daun yang bebas penyakit di sekitarnya. Letakkan mulsa sedemikian rupa agar tidak menyentuh batang untuk menghindari kebusukan batang.


Sebelum tanaman berproduksi dan tajuknya saling menaungi, dapat ditanam tanaman sela baik kacang-kacangan/sayuran. Setelah tajuk saling menutupi, tanaman sela diganti oleh rumput/tanaman legum penutup tanah yang sekaligus berfungsi sebagai penambah nitrogen bagi tanaman jeruk.


Pemeliharaan Tanaman


1) Penyulaman

Dilakukan pada tanaman yang tidak tumbuh.


2) Penyiangan

Gulma dibersihkan sesuai dengan frekuensi pertumbuhannya, pada saat pemupukan juga dilakukan penyiangan.


3) Pembubunan

Jika ditanam di tanah berlereng, perlu diperhatikan apakah ada tanah di sekitar perakaran yang tererosi. Penambahan tanah perlu dilakukan jika pangkal akar sudah mulai terlihat.


4) Pemangkasan

Pemangkasan bertujuan untuk membentuk tajuk pohon dan menghilangkan cabang yang sakit, kering dan tidak produktif/tidak diinginkan.


Dari tunas-tunas awal yang tumbuh biarkan 3-4 tunas pada jarak seragam yang kelak  akan  membentuk  tajuk  pohon.  Pada  pertumbuhan  selanjutnya,  setiap cabang memiliki 3-4 ranting atau kelipatannya.


Bekas luka pangkasan ditutup dengan fungisida atau lilin untuk mencegah penyakit. Sebaiknya celupkan dulu gunting pangkas ke dalam Klorox/alkohol. Ranting yang sakit dibakar atau dikubur dalam tanah.


5) Pemupukan


Pemberian jenis pupuk dan dosis (gram/tanaman) setelah penanaman adalah sebagai berikut:

a) 1 bulan:  Urea=100;  ZA=200;  TSP=25;  ZK=100;  Dolomit=20;  P.kandang=20 kg/tan.

b) 2 bulan:  Urea=200;  ZA=400;  TSP=50;  ZK=200;  Dolomit=40;  P.kandang=40 kg/tan.

c) 3 bulan:  Urea=300;  ZA=600;  TSP=75;  ZK=300;  Dolomit=60;  P.kandang=60 kg/tan.

d) 4 bulan: Urea=400; ZA=800; TSP=100; ZK=400; Dolomit=80; P.kandang=80 kg/tan.

e) 5 bulan:     Urea=500;     ZA=1000;     TSP=125;     ZK=500;     Dolomit=100; P.kandang=100 kg/tan.

f)  6 bulan:     Urea=600;     ZA=1200;     TSP=150;     ZK=600;     Dolomit=120; P.kandang=120 kg/tan.

g) 7 bulan:     Urea=700;     ZA=1400;     TSP=175;     ZK=700;     Dolomit=140; P.kandang=140 kg/tan.;

h) 8 bulan:     Urea=800;     ZA=1600;     TSP=200;     ZK=800;     Dolomit=160; P.kandang=160 kg/tan.

i)  Lebih dari 8   bulan:   Urea   1000;   ZA=2000;   TSP=200;   ZK=800;    Dolomit=200; P.kandang=200 kg/tan.


6) Pengairan dan Penyiraman

Penyiraman jangan menggenangi batang akar. Tanaman diairi sedikitnya satu kali dalam seminggu pada musim kemarau. Jika air kurang tersedia, tanah di sekitar tanaman digemburkan dan ditutup mulsa.


7) Penjarangan Buah

Pada tahun di mana pohon jeruk berbuah lebat, perlu dilakukan penjarangan supaya pohon mampu mendukung pertumbuhan dan bobot buah serta kualitas buah terjaga. Buah yang dibuang meliputi buah yang sakit, yang tidak terkena sinar matahari (di dalam kerimbunan daun) dan kelebihan buah di dalam satu tangkai. Hilangkan buah di ujung kelompok buah dalam satu tangkai utama terdapat dan sisakan hanya 2-3 buah.


HAMA DAN PENYAKIT

Hama

1) Kutu loncat (Diaphorina citri.)

Bagian yang diserang adalah tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda.  Gejala: tunas  keriting,  tanaman  mati.   Pengendalian:  menggunakan  insektisida  bahan aktif dimethoate (Roxion 40 EC, Rogor 40 EC), Monocrotophos (Azodrin 60 WSC) dan endosulfan (Thiodan 3G, 35 EC dan Dekasulfan 350 EC). Penyemprotan dilakukan menjelang dan saat bertunas, Selain itu buang bagian yang terserang.


2) Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii.)

Bagian yang diserang adalah tunas muda dan bunga.  Gejala: daun menggulung dan membekas sampai daun dewasa.  Pengendalian: menggunakan insektisida dengan bahan aktif Methidathion (Supracide 40 EC), Dimethoate (Perfecthion, Rogor 40 EC, Cygon), Diazinon (Basudin 60 EC), Phosphamidon (Dimecron 50 SCW), Malathion (Gisonthion 50 EC).


3) Ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella.)

Bagian yang diserang adalah daun muda.  Gejala: alur melingkar transparan atau keperakan,  tunas/daun  muda  mengkerut,  menggulung,  rontok.  Pengendalian: semprotkan insektisida dengan bahan aktif Methidathion (Supracide 40 EC, Basudin 60 EC), Malathion (Gisonthion 50 EC, 50 WP)< Diazinon (Basazinon 45/30 EC). Kemudian daun dipetik dan dibenamkan dalam tanah.


4) Tungau (Tenuipalsus sp. , Eriophyes sheldoni Tetranychus sp)

Bagian yang diserang adalah tangkai, daun dan buah.  Gejala: bercak keperak- perakan atau coklat pada buah dan bercak kuning atau coklat pada daun. Pengendalian: semprotkan insektisida Propargite (Omite), Cyhexation (Plictran), Dicofol (Kelthane), Oxythioquimox (Morestan 25 WP, Dicarbam 50 WP).


5) Penggerek buah (Citripestis sagittiferella.)

Bagian yang diserang adalah buah.  Gejala: lubang yang mengeluarkan getah. Pengendalian: memetik buah yang terinfeksi kemudian menggunakan insektisida Methomyl (Lannate 25 WP, Nudrin 24 WSC), Methidathion (Supracide 40 EC) yang disemprotkan pada buah berumur 2-5 minggu.


6) Kutu penghisap daun (Helopeltis antonii.)

Bagian yang diserang Helopeltis antonii.  Gejala: bercak coklat kehitaman dengan pusat  berwarna  lebih  terang  pada  tunas  dan  buah  muda,  bercak  disertai keluarnya cairan buah yang menjadi nekrosis. Pengendalian: semprotkan insektisida Fenitrotionmothion (Sumicidine 50 EC), Fenithion (Lebaycid), Metamidofos (Tamaron), Methomil (Lannate 25 WP).


7) Ulat penggerek bunga dan puru buah (Prays sp.)

Bagian yang diserang adalah kuncup bunga jeruk manis atau jeruk bes.  Gejala: bekas lubang-lubang bergaris  tengah  0,3-0,5  cm,  bunga  mudah  rontok,  buah muda gugur sebelum tua.  Pengendalian: gunakan insektisida dengan bahan aktif Methomyl  (Lannate  25  WP)  dan  Methidathion  (Supracide  40  EC).  Kemudian buang bagian yang diserang.


8) Thrips (Scirtotfrips citri.)

Bagian  yang  diserang  adalah  tangkai  dan  daun  muda.   Gejala:  helai  daun menebal, tepi daun menggulung ke atas, daun di ujung tunas menjadi hitam, kering  dan  gugur,  bekas  luka  berwarna  coklat  keabu-abuan  kadang-kadang disertai nekrotis. Pengendalian: menjaga agar tajuk tanaman tidak terlalu rapat dan sinar matahari masuk ke bagian tajuk, hindari memakai mulsa jerami. Kemudian gunakan insektisida berbahan aktif Difocol (Kelthane) atau Z-Propargite (Omite) pada masa bertunas.


9) Kutu dompolon (Planococcus citri.)

Bagian yang diserang  adalah  tangkai  buah.   Gejala:  berkas  berwarna  kuning, mengering dan buah gugur. Pengendalian: gunakan insektisda Methomyl (Lannate 25 WP), Triazophos (Fostathion 40 EC), Carbaryl (Sevin 85 S), Methidathion (Supracide 40 EC). Kemudian cegah datangnya semut yang dapat memindahkan kutu.


10)   Lalat buah (Dacus sp.)

Bagian yang diserang adalah buah yang hampir masak.  Gejala: lubang kecil di bagian tengah, buah gugur, belatung kecil di bagian dalam buah.  Pengendalian: gunakan insektisida Fenthion (Lebaycid 550 EC), Dimethoathe (Roxion 40 EC, Rogor   40   EC)   dicampur   dengan   Feromon   Methyl-Eugenol   atau   protein Hydrolisate.


11)   Kutu sisik (Lepidosaphes beckii Unaspis citri.)

Bagian yang diserang daun, buah dan tangkai.  Gejala: daun berwarna kuning, bercak khlorotis dan gugur daun. Pada gejala serangan berat terlihat ranting dan cabang  kering  dan  kulit  retak  buah  gugur.   Pengendalian:  gunakan  pestisida Diazinon (Basudin 60 EC, 10 G, Basazinon 45/30 EC), Phosphamidon (Dimecron 50 SCW), Dichlorophos (Nogos 50 EC), Methidhation (Supracide 40 EC).


12)   Kumbang belalai (Maeuterpes dentipes.)

Bagian yang diserang adalah daun tua pada ranting atau dahan bagian bawah. Gejala: daun gugur, ranting muda kadang-kadang mati.  Pengendalian: perbaiki sanitasi kebun, kurangi kelembaban perakaran. Kemudian gunakan insektisida Carbaryl (Sevin 85 S) dan Diazinon (Basudin 60 EC, 10 G).


Penyakit

1) CVPD

Penyebab: Bacterium like organism dengan vektor kutu loncat Diaphorina citri. Bagian yang diserang: silinder pusat (phloem) batang.  Gejala: daun sempit, kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak dan pangkal buah oranye.  Pengendalian: gunakan tanaman sehat dan bebas CVPD. Selain itu penempatan lokasi kebun minimal 5 km dari kebun jeruk yang terserang CVPD. Gunakan insektisida untuk vektor dan perhatikan sanitasi kebun yang baik.


2) Tristeza

Penyebab: virus Citrus tristeza dengan vektor Toxoptera. Bagian yang diserang jeruk manis, nipis, besar dan batang bawah jeruk Japanese citroen.  Gejala: lekuk batang, daun kaku pemucatan, vena daun, pertumbuhan terhambat. Pengendalian:   perhatikan   sanitasi   kebun,   memusnahkan   tanaman   yang terserang, kemudian kendalikan vektor dengan insektisida Supracide atau Cascade.


3) Woody gall (Vein Enation)

Penyebab:  virus Citrus Vein  Enation  dengan  vektor Toxoptera  citridus,  Aphis gossypii. Bagian yang diserang: Jeruk nipis, manis, siem, Rough lemon dan Sour Orange. Gejala: Tonjolan tidak teratur yang tersebar pada tulang daun di permukaan   daun.   Pengendalian:   gunaan   mata   tempel   bebas   virus   dan perhatikan sanitasi lingkungan.


4) Blendok

Penyebab: jamur Diplodia natalensis. Bagian yang diserang adalah batang atau cabang. Gejala: kulit ketiak cabang menghasilkan gom yang menarik perhatian kumbang, warna kayu jadi keabu-abuan, kulit kering dan mengelupas. Pengendalian:  pemotongan  cabang  terinfeksi,  bekas  potongan  diberi karbolineum atau fungisida Cu. dan fungisida Benomyl 2 kali dalam setahun.


5) Embun tepung

Penyebab: jamur Odidium tingitanium. Bagian yang diserang adalah daun dan tangkai muda. Gejala: tepung berwarna putih di daun dan tangkai muda. Pengendalian: gunakan fungisida Pyrazophos (Afugan) dan Bupirimate (Nimrot 25 EC).


6) Kudis

Penyebab: jamur Sphaceloma fawcetti. Bagian yang diserang adalah daun, tangkai  atau  buah.  Gejala:  bercak  kecil  jernih  yang  berubah  menjadi  gabus berwarna kuning atau oranye.  Pengendalian: pemangkasan teratur. Kemudian gunakan Fungisida Dithiocarbamate /Benomyl (Benlate).


7) Busuk buah

Penyebab: Penicillium spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae. Bagian yang diserang adalah buah. Gejala: terdapat tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit.  Pengendalian: hindari kerusakan mekanis, celupkan buah ke dalam air panas/fungisida benpmyl, pelilinan buah dan pemangkasan bagian bawah pohon.


8) Busuk akar dan pangkal batang

Penyebab: jamur Phyrophthoranicotianae. Bagian yang diserang adalah akar dan pangkal batang serta daun di bagian ujung dahan berwarna kuning.  Gejala: tunas tidak  segar, tanaman kering.   Pengendalian:  pengolahan  dan  pengairan  yang baik, sterilisasi tanah pada waktu penanaman, buat tinggi tempelan minimum 20 cm dari permukaan tanah.


9) Buah gugur prematur

Penyebab:  jamur Fusarium sp.  Colletotrichum sp.  Alternaria  sp.  Bagian  yang diserang:  buah  dan  bunga   Gejala:  dua-empat  minggu  sebelum  panen  buah gugur.  Pengendalian: Fungisida Benomyl (Benlate) atau Caprafol.


10)   Jamur upas

Penyebab: Upasia salmonicolor. Bagian yang diserang adalah batang.  Gejala: retakan melintang pada batang dan keluarnya gom, batang kering dan sulit dikelupas. Pengendalian: kulit yang terinfeksi dikelupas dan disaput fungisida carbolineum. Kemudian potong cabang yang terinfeksi.



11)   Kanker

Penyebab: bakteri Xanthomonas campestris Cv. Citri. Bagian yang diserang adalah  daun,  tangkai,  buah.   Gejala:  bercak  kecil  berwarna  hijau-gelap  atau kuning  di  sepanjang  tepi,  luka  membesar  dan  tampak  seperti  gabus  pecah dengan diameter 3-5 mm.  Pengendalian: Fungisida Cu seperti Bubur Bordeaux, Copper  oxychlorida.  Selain  itu  untuk  mencegah  serangan  ulat  peliang  daun adalah dengan mencelupkan mata tempel ke dalam 1.000  ppm  Streptomycin selama 1 jam.


PANEN

Ciri dan Umur Panen

Buah jeruk dipanen pada saat masak optimal, biasanya berumur antara 28–36 minggu, tergantung jenis/varietasnya.


Cara Panen

Buah dipetik dengan menggunakan gunting pangkas.


Perkiraan Produksi

Rata-rata tiap pohon dapat menghasilkan 300-400 buah per tahun, kadang-kadang sampai 500 buah per tahun. Produksi jeruk di Indonesia sekitar 5,1 ton/ha masih di bawah produksi di negara subtropis yang dapat mencapai 40 ton/ha.


PASCAPANEN

Pengumpulan

Di kebun, buah dikumpulkan di tempat yang teduh dan bersih. Pisahkan buah yang mutunya rendah, memar dan buang buah yang rusak. Sortasi dilakukan berdasarkan diameter dan berat buah yang biasanya terdiri atas 4 kelas. Kelas A adalah buah dengan diameter dan berat terbesar sedangkan kelas D memiliki diameter dan berat terkecil.


Penyortiran dan Penggolongan

Setelah buah dipetik dan dikumpulkan, selanjutnya buah disortasi/dipisahkan dari buah yang busuk. Kemudian buah jeruk digolongkan sesuai dengan ukuran dan jenisnya.


Penyimpanan

Untuk  menyimpan  buah  jeruk,  gunakan  tempat  yang  sehat  dan  bersih  dengan temperatur ruangan 8-10 derajat C.


Pengemasan

Sebelum pengiriman, buah dikemas di dalam keranjang bambu/kayu  tebal yang tidak terlalu berat untuk kebutuhan lokal dan kardus untuk ekspor. Pengepakan jangan terlalu padat agar buah tidak rusak. Buah disusun sedemikian rupa sehingga di antara buah jeruk ada  ruang udara  bebas  tetapi  buah  tidak  dapat  bergerak. Wadah untuk mengemas jeruk berkapasitas 50-60 kg.

Share:

Minggu, 10 Januari 2021

Panduan Lengkap Budidaya Singkong Agar Cepat Panen

Ketela pohon merupakan tanaman pangan berupa perdu dengan nama lain ubi kayu, singkong atau kasape. Ketela pohon berasal dari benua Amerika, tepatnya dari negara Brazil. Penyebarannya hampir ke seluruh dunia, antara lain: Afrika, Madagaskar,  India, Tiongkok.  Ketela  pohon  berkembang  di  negara-negara  yang terkenal wilayah pertaniannya dan masuk ke Indonesia pada tahun 1852.





Klasifikasi tanaman ketela pohon adalah sebagai berikut: 

Kingdom    :   Plantae

Divisi         :   Spermatophyta 

Sub Divisi  :   Angiospermae 

Kelas        :   Dicotyledoneae 

Ordo         :   Euphorbiales

Famili       :   Euphorbiaceae

Genus      :   Manihot

Spesies    :   Manihot utilissima Pohl.;  Manihot esculenta Crantz sin.


Varietas-varietas ketela pohon unggul yang biasa  ditanam, antara  lain:  Valenca, Mangi, Betawi, Basiorao, Bogor, SPP, Muara, Mentega, Andira 1, Gading, Andira 2, Malang 1, Malang 2, dan Andira 4


MANFAAT TANAMAN

Di Indonesia, ketela pohon menjadi makanan bahan pangan pokok setelah beras dan jagung. Manfaat daun ketela pohon sebagai bahan sayuran memiliki protein cukup tinggi, atau untuk keperluan yang lain seperti bahan obat-obatan. Kayunya bisa digunakan sebagai pagar kebun atau di desa-desa sering digunakan sebagai kayu  bakar  untuk memasak.  Dengan  perkembangan  teknologi,  ketela  pohon dijadikan bahan dasar pada industri makanan dan bahan baku industri pakan. Selain itu digunakan pula pada industri obat-obatan.


SENTRA PENANAMAN

Di dunia ketela pohon merupakan komoditi perdagangan yang potensial. Negara- negara  sentra  ketela  pohon  adalah  Thailand  dan  Suriname.  Sedangkan  sentra utama ketela pohon di Indonesia di Jawa Tengah dan Jawa Timur.


SYARAT PERTUMBUHAN

Iklim

a) Curah  hujan  yang  sesuai  untuk  tanaman  ketela  pohon  antara  1.500-2.500 mm/tahun.

b) Suhu  udara  minimal  bagi  tumbuhnya  ketela  kohon  sekitar  10  derajat  C.  Bila suhunya di bawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.

c) Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela pohon antara 60-65%.

d) Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon sekitar 10 jam/hari terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.


Media Tanam

a) Tanah  yang  paling  sesuai  untuk  ketela  pohon  adalah  tanah  yang  berstruktur remah, gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah dengan struktur remah mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah. Untuk pertumbuhan tanaman ketela pohon yang lebih baik, tanah harus subur dan kaya bahan organik baik unsur makro maupun mikronya.

b) Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon adalah jenis aluvial latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol.

c) Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela pohon berkisar antara 4,5-8,0 dengan pH ideal 5,8. Pada umumnya tanah di Indonesia ber-pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0-5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman ketela pohon.





Ketinggian Tempat

Ketinggian tempat yang baik dan ideal untuk tanaman ketela pohon antara 10–700 m dpl, sedangkan toleransinya antara 10–1.500 m dpl. Jenis ketela pohon tertentu dapat ditanam pada ketinggian tempat tertentu untuk dapat tumbuh optimal.


PEDOMAN BUDIDAYA

Pembibitan


1) Persyaratan Bibit

Bibit yang baik untuk bertanam ketela pohon harus memenuhi syarat sebagai berikut:

a) Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan).

b) Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya  yang normal dan  sehat  serta seragam.

c) Batangnya telah berkayu dan berdiameter + 2,5 cm lurus. d) Belum tumbuh tunas-tunas baru.


2) Penyiapan Bibit

Penyiapan bibit ketela pohon meliputi hal-hal sebagai berikut:

a) Bibit berupa stek batang.

b) Sebagai stek pilih batang bagian bawah sampai tengah.

c) Setelah stek terpilih kemudian diikat, masing-masing ikatan berjumlah antara

25–30 batang stek.

d) Semua ikatan stek yang dibutuhkan, kemudian diangkut ke lokasi penanaman.


Pengolahan Media Tanam


1) Persiapan

Kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan adalah:

a) Pengukuran  pH  tanah  dilakukan  dengan  menggunakan  kertas  lakmus,  pH meter dan cairan pH tester.

b) Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan ditanami untuk mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan bahan organik.

c) Penetapan jadwal/waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen. Hal ini perlu diperhitungkan  dengan  asumsi  waktu  tanam  bersamaan  dengan  tanaman lainnya (tumpang  sari),  sehingga  sekaligus  dapat  memproduksi  beberapa variasi tanaman yang sejenis.

d) Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan setiap petani ketela pohon. Pengaturan volume produksi penting juga diperhitungkan karena berkaitan erat dengan perkiraan harga pada saat panen dan pasar. Apabila pada saat panen nantinya harga akan anjlok karena di daerah sentra penanaman  terjadi  panen  raya  maka  volume  produksi  diatur  seminimal mungkin.


2) Pembukaan dan Pembersihan Lahan

Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan untuk memudahkan perakaran   tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada. Pembajakan dilakukan dengan hewan ternak, seperti kerbau,  sapi,   atau  pun dengan mesin traktor.


Pencangkulan dilakukan pada sisi-sisi yang sulit dijangkau, pada tanah tegalan yang arealnya relatif lebih sempit oleh alat bajak dan alat garu sampai tanah siap untuk ditanami.


3) Pembentukan Bedengan

Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. 


Pembentukan bedengan/larikan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan   tanaman,   seperti   pembersihan   tanaman   liar   maupun sehatnya pertumbuhan tanaman.


4) Pengapuran

Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam/tanah gembut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan (CaCO3). Dosis yang biasa digunakan untuk pengapuran adalah 1-2,5 ton/ha. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan pemberian pupuk kandang.


Lihat Juga Video Cara Sambung Singkong Karet Agar Berbuah Besar Berikut ini :





Teknik Penanaman

1) Penentuan Pola Tanam

Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah  penanaman  padi.  


Jarak  tanam  yang  umum  digunakan  pada  pola monokultur ada beberapa alternatif, yaitu 100 X 100 cm, 100 X 60 cm atau 100 X 40 cm. Bila pola tanam dengan sistem tumpang sari bisa dengan jarak tanam 150 X 100 cm atau 300 X 150 cm.


2) Cara Penanaman

Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela pohon kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. 


Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja.


Pemeliharaan Tanaman


1) Penyulaman

Untuk bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman, yakni dengan cara mencabut dan diganti dengan bibit yang baru/cadangan. Bibit atau tanaman muda yang mati harus diganti atau disulam. Pada umumnya petani maupun pengusaha mengganti tanaman yang mati dengan sisa bibit yang ada. Bibit sulaman yang baik seharusnya juga merupakan tanaman yang sehat dan tepat waktu untuk ditanam. Penyulaman dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu panas. Waktu penyulaman  adalah  minggu  pertama  dan  minggu  kedua setelah penanaman. Saat penyulaman yang melewati minggu ketiga setelah penanaman mengakibatkan perbedaan pertumbuhan yang menyolok antara tanaman pertama dan tanaman sulaman.


2) Penyiangan

Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis rumput/ tanaman liar/pengganggu (gulma) yang hidup di sekitar tanaman. Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2 (dua) kali penyiangan.


3) Pembubunan

Cara pembubunan dilakukan dengan menggemburkan tanah di sekitar tanaman dan setelah itu dibuat  seperti guludan. Waktu  pembubunan  dapat  bersamaan dengan waktu penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. Apabila tanah sekitar tanaman Ketela pohon terkikis karena hujan atau terkena air siraman sehingga perlu dilakukan pembubunan/di tutup dengan tanah agar akar tidak kelihatan.


4) Perempelan/Pemangkasa

Pada tanaman Ketela pohon perlu dilakukan pemangkasan/pembuangan tunas karena minimal setiap pohon harus mempunyai cabang 2 atau 3 cabang. Hal ini agar batang pohon tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi di musim tanam mendatang.


5) Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan sistem pemupukan berimbang antara N, P, K dengan dosis Urea=133–200 kg; TSP=60–100 kg dan KCl=120–200 kg. Pupuk tersebut diberikan pada saat tanam dengan dosis N:P:K= 1/3 : 1 : 1/3 (pemupukan dasar) dan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K= 2/3 : 0 : 2/3.


6) Pengairan dan Penyiraman

Kondisi lahan Ketela pohon dari awal tanam sampai umur + 4–5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. Sistem yang baik digunakan adalah sistem genangan sehingga air dapat sampai ke daerah perakaran secara resapan. 

Pengairan dengan sistem genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan.


7) Waktu Penyemprotan Pestisida

Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Penyemprotan pestisida paling baik dilakukan pada pagi hari setelah embun hilang atau pada sore hari. 


Dosis pestisida disesuaikan dengan serangan hama dan penyakit, baca dengan baik penggunaan dosis pada label merk obat yang digunakan. Apabila hama dan penyakit menyerang dengan ganas maka dosis pestisida harus lebih akan tetapi  penggunaannya  harus  hati-hati  karena  serangga  yang menguntungkan dapat ikut mati.


HAMA DAN PENYAKIT

Hama

a) Uret (Xylenthropus)

Ciri: berada dalam akar dari tanaman.  Gejala: tanaman mati pada yg usia muda, karena akar batang dan umbi dirusak.  Pengendalian: bersihkan sisa-sisa bahan organik pada saat tanam dan atau mencampur sevin pada saat pengolahan lahan.


b) Tungau merah (Tetranychus bimaculatus)

Ciri: menyerang pada permukaan bawah daun dengan menghisap cairan daun tersebut. Gejala: daun akan menjadi kering.  Pengendalian: menanam varietas toleran dan menyemprotkan air yang banyak.


Penyakit


a) Bercak daun bakteri

Penyebab: Xanthomonas manihotis atau Cassava Bacterial Blight/CBG .  Gejala: bercak-bercak bersudut pada daun lalu bergerak dan mengakibatkan pada daun kering dan akhirnya mati. Pengendalian: menanam varietas yang tahan, memotong atau memusnahkan bagian tanaman yang sakit, melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi kebun


b) Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum E.F. Smith)

Ciri: hidup di daun, akar dan batang.  Gejala: daun yang mendadak jadi layu seperti tersiram air panas. Akar, batang dan umbi langsung membusuk. Pengendalian: melakukan pergiliran tanaman, menanam varietas yang tahan seperti Adira 1, Adira 2 dan Muara, melakukan pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit berat.


c) Bercak daun coklat (Cercospora heningsii)

Penyebab: cendawan yang hidup di dalam daun.  Gejala: daun bercak-bercak coklat,   mengering,   lubang-lubang   bulat   kecil   dan   jaringan   daun  mati.  Pengendalian: melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman varietas yang tahan, pemangkasan pada daun yang sakit serta melakukan sanitasi kebun.


d) Bercak daun konsentris (Phoma phyllostica)

Penyebab: cendawan yang hidup pada daun.  Gejala: adanya bercak kecil dan titik-titik, terutama pada daun muda.  Pengendalian: memperlebar jarak tanam, mengadakan sanitasi kebun dan memangkas bagian tanaman yang sakit .


Gulma

Sistem penyiangan/pembersihan secara menyeluruh dan gulmanya dibakar/dikubur dalam seperti yang dilakukan umumnya para petani Ketela pohon dapat menekan pertumbuhan gulma. Namun demikian, gulma tetap tumbuh di parit/got dan lubang penanaman.


Khusus gulma dari  golongan  teki  (Cyperus  sp.)  dapat  di  berantas  dengan  cara manual dengan penyiangan yang dilakukan 2-3 kali permusim tanam. Penyiangan dilakukan sampai akar tanaman  tercabut.  Secara  kimiawi  dengan  penyemprotan herbisida seperti dari golongan 2,4-D amin dan sulfonil urea. Penyemprotan harus dilakukan dengan hati-hati.


Sedangkan jenis gulma lainnya adalah rerumputan yang banyak ditemukan di lubang penanaman maupun dalam got/parit. Jenis gulma rerumputan yang sering dijumpai yaitu jenis rumput belulang (Eleusine indica), tuton (Echinochloa colona), rumput grintingan  (Cynodon  dactilon),  rumput  pahit  (Paspalum  distichum),  dan  rumput sunduk  gangsir  (digitaria  ciliaris).  Pembasmian  gulma  dari  golongan  rerumputan dilakukan dengan cara manual yaitu penyiangan dan penyemprotan herbisida berspektrum sempit misalnya Rumpas 120 EW dengan konsentrasi 1,0-1,5 ml/liter.


PANEN

Ciri dan Umur Panen

Ketela pohon dapat dipanen pada saat pertumbuhan daun bawah mulai berkurang. Warna daun mulai menguning dan banyak yang rontok. Umur panen tanaman ketela pohon  telah  mencapai  6–8  bulan  untuk  varietas  Genjah  dan  9–12  bulan  untuk varietas Dalam.


Cara Panen

Ketela pohon dipanen dengan cara mencabut batangnya dan umbi yang tertinggal diambil dengan cangkul atau garpu tanah.


PASCAPANEN

Pengumpulan

Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkau oleh angkutan.


Penyortiran dan Penggolongan

Pemilihan atau penyortiran umbi ketela pohon sebenarnya dapat dilakukan pada saat  pencabutan berlangsung.  Akan  tetapi penyortiran  umbi  ketela  pohon  dapat dilakukan setelah semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan untuk memilih umbi yang berwarna bersih terlihat dari kulit umbi yang segar serta yang cacat terutama terlihat dari ukuran besarnya umbi serta bercak hitam/garis-garis pada daging umbi.


Penyimpanan

Cara penyimpanan hasil panen umbi ketela pohon dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a) Buat lubang di dalam tanah untuk tempat penyimpanan umbi segar ketela pohon tersebut. Ukuran lubang disesuaikan dengan jumlah umbi yang akan disimpan.

b) Alasi dasar lubang dengan jerami atau daun-daun, misalnya dengan daun nangka atau daun ketela pohon itu sendiri.

c) Masukkan  umbi  ketela  pohon  secara  tersusun  dan  teratur  secara  berlapis kemudian masing-masing lapisan tutup dengan daun-daunan segar tersebut di atas atau jerami.

d) Terakhir  timbun  lubang  berisi  umbi  ketela  pohon  tersebut  sampai  lubang permukaan  tertutup  berbentuk  cembung,  dan  sistem  penyimpanan  seperti  ini cukup awet dan membuat umbi tetap segar seperti aslinya.


Pengemasan dan Pengangkutan

Pengemasan umbi ketela pohon bertujuan untuk melindungi umbi dari kerusakan selama dalam pengangkutan. Untuk pasaran antar kota/ dalam negeri dikemas dan dimasukkan dalam karung-karung goni atau keranjang terbuat dari bambu agar tetap segar. Khusus untuk pemasaran antar pulau maupun diekspor, biasanya umbi ketela pohon ini dikemas dalam bentuk gaplek atau dijadikan tepung tapioka. Kemasan selanjutnya dapat disimpan dalam karton ataupun plastik-plastik dalam pelbagai ukuran, sesuai permintaan produsen.


Setelah dikemas umbi ketela pohon  dalam bentuk segar maupun dalam  bentuk gaplek ataupun tapioka diangkut dengan alat trasportasi baik tradisional maupun modern ke pihak konsumen, baik dalam maupun luar negeri.

Share:

Pengikut