Tampilkan postingan dengan label Apel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Apel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Agustus 2012

Cara Budidaya Apel Organik


Apel telah diketahui sebagai buah ajaib yang mampu mencegah dan menyembuhkan berbagai penyakit. Apel yang dihasilkan dari penerapan pertanian organik, memiliki khasiat jauh lebih baik dari pada yang non organik. Apel yang dihasilkan dari proses non organik mengandung berbagai bahan kimia yang bersifat racun bagi manusia. Apel organik untuk menjaga kesehatan dan apel non organik dapat membahayakan kesehatan.
Apel Batu sudah lama dikenal secara luas oleh masyarakat Indonesia, bahkan Kota Batu dikenal banyak orang karena Apel yang dihasilkan. Petani apel Kota Batu pernah mengalami masa jaya yaitu sekitar tahun 1980 hingga menjelang Reformasi Keadaan ini dapat dicapai karena tanaman apel masih sangat baik kondisinya dan umumnya berumur 10 tahunan, lingkungan sangat mendukung dan harga sarana produksi (terutama pupuk dan pestisida) masih rendah.

Seiring perjalanan waktu, cara budidaya yang diterapkan semakin mengutamakan input luar yang makin tinggi. Demikian pula penggunaan pestisida terus mengalami peningkatan. Dampak negatif penggunaan pupuk an organik dan pestisida khususnya yang sistemik sama sekali belum diperhitungkan.
Lingkungan (ekosistem) pendukung mengalami penurunan akibat pembangunan yang mengabaikan kelestarian lingkungan. Penurunan kualitas sumber daya alam dan penerapan praktek budidaya yang buruk menyebabkan makin merosotnya kualitas dan kuantitas hasil dan bahkan banyak tanaman apel yang merana dan kemudian mati atau dibongkar.
Dalam keadaan demikian, beberapa petani mengalami kebingungan, sehingga justru tidak mampu mempertahankan tanaman apelnya. Kehadiran kegiatan SLPHT Apel seolah menjadi sumber pencerahan ditengah kebinmgungan. Penerapan PHT pada kenyataannya terbukti mampu menumbuhkan kembali semangat berusahatani apel. Hal ini terbukti dengan masih berlanjutnya pertemuan SLPHT yang saat ini sudah hampir setahun.
Model sekolah lapang dengan keragaman materi yang tinggi memberi daya tarik tersendiri bagi petani karena sesuai dengan kebutuhan petani. SLPHT telah mampu merubah cara pandang petani dari cara budidaya sesuai kehendak petani menjadi sesuai kebutuhan tanaman, dan dari pupuk an organik sebagai pupuk utama menjadi pupuk organik sebagai pupuk utama. Pada perkembangan selanjutnya, beberapa petani mulai lebih mengarah pada sistem pertanian organik.

BUDIDAYA APEL ORGANIK
1. Keadaan Umum Kebun Apel
Tanaman apel di Kecamatan Bumiaji pada umumnya merupakan warisan tanaman dengan jarak tanam yang tidak ideal (terlalu rapat, 1 - 1,5 m) dan sudah berumur lebih dari 20 tahun. Keadaan ini tentu tidak menguntungkan dari sisi kesehatan tanaman. Jarak tanam yang rapat menyebabkan terjadinya kompetisi yang kuat antar tanaman, serta menimbulkan kelembaban yang tinggi dalam kebun yang memicu perkembangan penyakit. Praktek budidaya yang dilakukan adalah dengan mengandalkan input luar bahan kimiawi yang tinggi sehingga membahayakan sekehatan tanaman dan lingkungan.
Berdasarkan hasil pengujian tanah yang dilaksanakn oleh Laboratorium tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya diketahui bahwa kandungan bahan organik sangat rendah yaitu hanya 0,79 %. Hal ini menunjukkan bahwa tanah tidak memliki kemampuan untuk mendukung tanaman tumbuh sehat dan menopang agroekosistem. Keadaan ini dijadikan rujukan awal terhadap labilnya keadaan agroekosistem yang ditandai dengan seringnya terjadi peledakan serangan OPT.
Dari hasil pengamatan agroekosistem awal diketahui bahwa keragaman serangga sangat rendah, bahkan musuh alami tidak ditemukan. Populasi Thrips dan Kutu Hijau meningkat dengan pesat, demikian pula dengan intensitas serangan penyakit khususnya Embun Tepung. Dalam keadaan demikian, pengamatan terhadap suhu dan kelembaban sangat diperlukan sebagai data pendukung untuk memperkirakan kemungkinan peningkatan serangan penyakit.

2. Tahapan Menuju Penerapan Pertanian Organik
Melalui pemahaman prinsip-prinsip PHT dan analisa agroekosistem, petani mengetahui bahwa keadaan tanah merupakan faktor penting untuk kesehatan tanaman dan memungkinkan adanya keseimbangan dalam agroekosistem. Terdapat 4 prinsip yang harus dapat dipahami oleh para petani Alumni SLPHT agar mampu menerapkan PHT dilahannya, yaitu Budidaya tanaman sehat, pengamatan mingguan (rutin), pelestarian musuh alami dan petani sebagai ahli PHT.
Budidaya tanaman sehat merupakan langkah awal untuk meminimalkan serangan hama dan penyakit. Dengan asumsi bahwa jika tanaman telah tumbuh dengan sehat, maka tanaman memiliki kemampuan mempertahankan diri dari serangan hama maupun penyakit.
Budidaya tanaman sehat mencakup berbagai aspek mulai dari pra tanam hingga panen. Tanaman sehat dapat diperoleh jika bibit yang digunakan sehat, di tanam pada tanah yang sehat, penerapan cara budidaya yang baik dan didukung oleh lingkungan yang sehat.
Pengamatan merupakan bagian penting dalam budidaya apel. Dengan pengamatan, dapat diketahui pertumbuhan tanaman, keberadaan serangga hama dan musuh alaminya, intensitas serangan hama dan penyakit dan keadaan lingkungan yang berpengaruh terhadap perkembangan tanaman, hama dan penyakit. Hasil pengamatan dianalisa dan digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yaitu tindakan yang perlu dilakukan untuk melindungi tanaman agar dapat tumbuh sehat.
Pelestarian musuh alami merupakan kegiatan yang ditujukan untuk menjaga keberadaan dan kemampuan musuh alami dalam menjalankan fungsinya yaitu sebagai pengendali alami hama dan penyakit tanaman. Keberadaan musuh alami dipengaruhi oleh ketersediaan pakan dan lingkungan hidupnya. Musuh alami pada umumnya peka terhadap penggunaan pestisida. Oleh sebab itu, penggunaan pestisida harus menjadi alternatif terakhir jika seperangkat cara pengendalian yang lain tidak mampu mengendalikan populasi maupun intensitas serangan hama dan penyakit sesuai yang diharapkan.
Sebagai pengambil keputusan dalam usaha tani maka petani alumni SLPHT diharapkan sebagai “Ahli PHT” yaitu memiliki kemandirian dalam penerapan PHT dan sebagai pemilik PHT. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa pengendalian hama dan penyakit merupakan bagian integral dari seluruh tahapan proses usahatani, dan tindakan pengendalian harus dilakukan sedioni mungkin, cepat dan tepat.
Dengan pemahaman terhadap agroekosistem dan prinsip-prinsip PHT memudahkan bagi petani untuk merencanakan tahapan-tahapan menuju penerapan sistem pertanian organik. Beberapa tahapan yang telah dan akan dilaksanakan secara terus menerus adalah sebagai berikut :
a. Peningkatan Daya Dukung Lahan.
Pemberian pupuk organis adalah untuk meningkatkan kesuburan fisik, biologis dan kimiawi tanah. Fisik tanah yang remah dan dengan rongga tanah yang cukup sangat dibutuhkan oleh akar tanaman dan baik untuk tempat hidup mikroorghanisme tanah.
Kesuburan biologis yang cukup, akan menjamin ketersediaan unsur hara bagi tanaman dan pengendalian penyakit perakaran oleh agens antagonis. Adanya kehidupan serangga pengurai dalam tanah sangat membantu dalam pelestarian musuh alami (sebagai pakan selain hama).
Kesuburan kimiawi adalah tersedianya unsur hara tanaman dalam jumlah dan jenis yang cukup sesuai pertumbuhan tanaman. Pemberian pupuk organik yang tepat akan menyediakan unsur hara sesuai kebutuhan tanaman baik dalam jumlah maupun jenisnya. Dosis pupuk organik yang dibutuhkan tanaman berdasarkan hasil uji tanah adalah 30 – 50 kg per pohon. Namun, sebagian besar petani masih memberikan pupuk organik dibawah 10 kg per tanaman.
b. Perbaikan kualitas tanaman.
Kegiatan ini ditujukan untuk mengganti cabang-cabang yang sudah tua dan ada kerusakan jaringan akibat penggunaan pestisida sistemik yang berlebihan maupun oleh faktor lain. Dengan adanya cabang baru yang sehat, diharapkan akan menghasilkan buah dan daun yang lebih baik. Pada keadaan tertentu, juga dilakukan pangkas pohon pokok (pangkas habis) pada tanaman apel yang batang pokoknya rusak akibat serangan penyakit. Kegiatan ini ternyata mampu menumbuhkan batang baru yang sehat dan lebih baik. Pada batang pohon yang mengalami kerusakan parah hingga ke akar tanaman, maka dilakukan pembongkaran untuk mencegah penularan penyakit dan untuk penjarangan pohon agar jarak tanamnya lebih baik.
c. Perbaikan kualitas kebun.
Apel membutuhkan ketersediaan air secara terus menerus, tetapi tidak tahan terhadap genangan air (air jenuh). Dalam kondisi daya serap tanah terhadap air rendah, sangat diperlukan adanya sistem irigasi yang baik untuk menjamin ketersediaan air. Saat ini, pada salah satu kebun telah ada rancang bangun sistem irigasi tetes yang dibuatkan oleh Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang.
Penyiangan kebun dilakukan untuk memanen hijauan sumber bahan organik sehingga tidak perlu dengan pencangkulan yang dalam maupun dengan herbisida. Sisakan sebagian gulma untuk penutup tanah, tempat hidup beberapa serangga dan mencegah erosi permukaan tanah. Penyiangan sebaiknya dilakukan dengan membabat gulma sebelum menghasilkan biji.
Untuk meningkatkan keragaman serangga dan sekaligus untuk melestarikan musuh alami dalam rangka menjaga keseimbangan agroekosistem perlu dilakukan penanaman beberapa tanaman non apel, baik sebagai penutup tanah, sumber bahan organik serta sebagai barier atau tanaman pagar.
d. Pemanfaatan dan pelestarian musuh alami
Salah satu faktor yang menyebabkan usahatani menjadi mahal dan tidak efisien adalah tidak adanya atau sangat rendahnya populasi musuh alami. Sehingga sangat banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk menggantikan peran musuh alami dalam menekan populasi hama. Untuk memancing kehadiran seerangga dewasa musuh alami, perlu penanaman tanaman yang berbunga, namun perlu diperhitungkan kehadiran hama Thrips yang juga menyukai bunga.
Musuh alami secara umum lebih peka terhadap pestisida, oleh sebab itu dalam aplikasi pestisida (insektisida) lebih baik menggunakan yang berspektrum sempit dan jika diperlukan lakukan aplikasi spot-spot. Akan lebih baik jika menggunakan pestisida nabati dengan memanfaatkan tanaman yang ada. Pengendalian hama juga dapat dilakukan dengan cendawan entomopatogen yaitu Beauveria bassiana atau Metarhizium sp (keduanya telah dieksplorasi dari kebun apel). Untuk pengendalian penyakit digunakan bubur california (BC). Strategi penggunaan BC adalah dengan aplikasi dini berdasarkan suhu dan kelembaban serta arah angin, fase pertumbuhan tanaman dan serangan di kebun sekitar (sumber inokulum di hamparan). Hal ini perlu dilakukan karena keterlambatan aplikasi dapat mengakibatkan tidak efektifnya penggunaan BC dan belum adanya pengendali alami akibat penggunaan fungisida yang tinggi pada waktu yang lalu.
Pada tanah dengan kandungan bahan organik rendah, tanaman akan mudah terserang penyakit perakaran atau tular tanah. Oleh sebab itu, pemberian bahan organik sebaiknya ditambahkan mikroorganisme yang mampu mengendalikan serangan penyakit dan berfungsi sebagai perombak atau pengurai yang membantu ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Mikroorganisme yang telah digunakan adalah Trichoderma sp (telah dieksplorasi dari kebun apel), Gliocladium sp dan Pseudomonas flourescens.
Kegiatan tersebut diatas, ditujukan untuk menciptakan keadaan lahan yang sehat, mampu mendukung pertumbuhan tanaman yang sehat dan ekosistem yang baik. Kegiatan budidaya lainnya tetap dilakukan sebagaimana biasa, namun dengan dasar pemikiran dan tujuan yang berbeda.
a. Penyiangan, dilakukan untuk mengurangi kelembaban, sebagai sumber bahan organik, dan disisakan untuk tempat hidup musuh alami (refugia). Dilakukan dengan cara membabat (sabit), dihindari pencangkulan yang dalam untuk mencegah erosi permukaan tanah, penahan aliran air.
b. Pengairan, dilakukan untuk menjaga agar air dalam keadaan tersedia bagai tanaman. Hindari cara leb-leban (penggenangan) yang dapat berpengaruh buruk terhadap perakaran. Jika diperlukan dengan cara dikocor atau sistem irigasi tetes. Sistem drainase yang baik, agar saat musim hujan air mudah mengalir.
c. Perompesan, jangan terlalu dekat atau terlalu lama dari masa panen. Sebaiknya dilakukan ketika bakal tunas telah siap dan perlu dilakukan pemupukan sebelumnya agar tanaman memiliki cukup cadangan energi untuk pertunasan. Hindari perompesan daun dengan cara dibakar(dengan bahan kimia, misal pupuk N) karena dapat merusak jaringan kulit batang dan memudahkan pertumbuhan penyakit. Perompesan daun dilakukan secara manual (dengan tangan) dengan hati-hati dan hasil rompesan digunakan sebagai sumber bahan organik.
d. Pemangkasan, dilakukan setelah perompesan dengan tujuan mengatur percabangan untuk dibuahkan maupun untuk mengurangi kelembaban, dan membuang sumber inokulum (penyakit) serta meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber energi (unsur hara dan sinar matahari). Dalam pemangkasan, diupayakan sepertiganya adalah untuk menghasilkan percabangan baru yang pada musim berikutnya dibuahkan. Cara pemangkasan harus tepat (dekat knop/bakal tunas jika untuk pembungaan) dan diatur sedemikian rupa agar munculnya bunga merata pada seluruh sisi pohon dengan harapan semua buah mendapat pencahayaan yang cukup.
e. Pada tanaman yang belum menghasilkan, pemangkasan dilakukan untuk membentuk tajuk tanaman yang baik. Hasil pangkasan dapat digunakan sebagai sumber bahan organik (dicacah dan diproses) atau untuk keperluan lain. Jika sisa pangkasan banyak terdapat sumber penyakit, maka harus segera dikeluarkan dari kebun atau dibakar.
f. Pelengkungan cabang, dilakukan untuk menyerempakkan pertumbuhan tunas lateral sehingga pembungaan relatif seragam. Kegiatan ini dapat dilakukan jika jarak tanam memenuhi syarat. Pada jarak tanam yang rapat, cara ini tidak banyak dilakukan.
g. Penjarangan buah, perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas buah (ukuran, penampakan). Kegiatan ini dilakukan jika buah terlalu banyak pada umur 2-3 bulan. Jumlah buah yang banyak dalam satu tunas dapat terjadi jika digunakan ZPT atau pemangkasan yang tidak tepat (banyak tunas yang tidak berbunga) sehingga buah menngumpul pada beberapa tunas saja. Penjarangan buah harus didasari keyakinan bahwa pengurangan jumlah buah tidak akan berpengaruh nyata pada bobot hasil. Dengan penjarangan akan dihasilkan buah yang lebih berkualitas dan memiliki harga jual lebih baik, sehingga meningkatkan pendapatan petani.
h. Pembelongsongan buah, dilakukan 3 bulan sebelum panen pada apel manalagi. Pembelongsongan dilakukan menggunakan kertas minyak atau bekas buku telpon dengan tujuan untuk mendapatkan warna kulit buah tetap mulus dan terhindar dari serangan burung atau kelelawar.
i. Panen, sebaiknya dilakukan pada saat buah matang secara fisiologis. Jika panen dilakukan saat buah belum siap akan berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan tanaman dan pembungaan pada musim berikutnya. Biasanya tanaman akan menghasilkan tunas vegetatif yang berlebihan dan pembungaan pada musim berikutnya akan kesulitan (banyak yang tidak jadi buah). Cara panen harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kerusakan tanaman dan kerusakan buah.
j. Perlakuan khusus dilakukan dengan memberikan zat hormonal tertentu disertai beberapa nutrisi mikro yang hanya dilakukan pada saat berbunga pada musim hujan dengan tujuan mempertahankan bunga agar menjadi buah. Perlakuan ini diperlukan jika hujan cukup lebat, berlangsung lama pada siang hari dan tanaman belum sehat sepenuhnya.

Penerapan pertanian organik pada tanaman apel harus didukung oleh cara budidaya yang baik. Berikut di bawah ini beberapa perubahan cara budidaya yang diperlukan.

No
Aspek Budidaya
Tidak Organik
Menuju Organik
1.
Pemupukan
Untuk memenuhi kebutuhan unsur hara khususnya makro (kesuburan kimia)
Pupuk Kimia sebagai unsur utama
Sesuai rekomendasi umum
Untuk menjaga kesuburan fisik, biologi dan kimia tanah
Pupuk Organik sebagai unsur utama
Didasari oleh hasil pengujian tanah
2.
Perompesan
Dibakar dengan bahan kimia tertentu
Secara manual
3.
Pemangkasan
Diutamakan untuk tunas dan bunga muncul sebanyak-banyaknya.
Membuang cabang yang sakit (tidak menghasilkkan)
Untuk kesehatan tanaman dengan pengaturan cabang dan ranting agar maksimal mendapat cahaya dan ruang tumbuh, serta untuk mengurangi kelembaban
Meminimalkan inokulum awal
4.
Penggunaan ZPT dan pupuk daun
Aplikasi ZPT untuk tunas dan bunga muncul lebih banyak dan serempak.
Mencegah kerontokan bunga maupun buah
Untuk keserempakan munculnya bunga
5.
Penyiangan
Gulma dimatikan, lahan bersih dari gulma
Sisakan gulma dan dipanen untuk bahan pupuk organik
6.
Penyiraman
Tergenang (jenuh) bahkan menggenangi leher akar atau kekurangan air
Tidak tergenang (tersedia) didukung oleh daya serap air oleh tanah dan sistem irigasi yang baik
7.
Penjarangan buah
Dilakukan untuk buah yang sakit
Untuk meningkatkan kualitas buah (jika menggunakan perangsang pembungaan).
8.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Mengandalkan pestisida kimiawi
Bagian integral seluruh proses budidaya
Mengutamakan peran pengendali alami
Mengkombinasikan berbagai cara pengendalian
Pestisida kimiawi sebagai alternatif terakhir.
Mengendalikan (menekan) populasi bukan memusnahkan
9.

Arial,Helvetica,sans-serif;">Panen
Panen belum saat matang fisiologis
Dipanen saat matang secara fisiologis

Penerapan pertanian organik, pada dasarnya tidak dapat dilakukan sekaligus dalam waktu yang singkat. Tetapi harus dalam tahapan proses yang berimbang antara kondisi tanah, tanaman, perkembangan agroekosistem, dan lingkungan. Jika penerapan pertanian organik pada tanaman apel diterapkan secara langsung (langsung tanpa menggunakan bahan an organik) akan rawan kegagalan, karena agroekosistem belum siap (unsur penyusun belum berfungsi optimal) dan ekosistem sekitar belum mampu mendukung.
Di Kelompok Tani Makmur Abadi, saat ini baru 0,2 hektar kebun apel yang telah organik penuh, 10 ha sudah mampu mengurangi bahan an organik sampai 80 % dan sisanya sudah mampu menekan hingga 40 % penggunaan bahan an organik. Secara umum, hampir semua petani telah menggunakan pupuk organik dan bubur california untuk pengendalian penyakit. Sebagian petani telah menggunakan pupuk organik cair sejak tahun 2003, namun penggunaan pupuk organik padat baru dilakukan pada saat dan setelah petani melaksanakan SLPHT Apel.
Dibawah ini perkembangan dan perbandingan penggunaan bahan organik dan alokasi biaya produksi serta BC ratio dari sebelum tahun 2003, tahun 2003 hingga 2006 dan setelah SLPHT tahun 2006.
Perbandingan Penggunaan Bahan organik dan an organik pada Praktek Budidaya Apel di Kelompok Tani Makmur Abadi
No
Uraian
< tahun 2003
2003 -
³ SLPHT 2006
1.
Pupuk organik cair
Tidak diberikan
Diberikan
Diberikan
2.
Pupuk organik padat
Tidak diberikan
Tidak diberikan
Diberikan 5 – 20 ton/ha
3.
Pupuk an organik NPK
± 2 kg /pohon
± 1 kg/pohon (tidak mampu beli)
0 – 200 gr/ pohon
4.
Aplikasi pestisida
30 – 35 kali
20 – 30 kali
0 – 8 kali
5.
Aplikasi BC
Tidak
0 – 10 kali
10 –16 kali
6.
Aplikasi Trichoderma sp.
Tidak
Tidak
1 Lt untuk 1 ton pupuk organik
7.
Aplikasi Pf *)
Tidak
Tidak
1 Lt untuk 1 ton pupuk organik
8.
Aplikasi Beauveria
Tidak
Tidak
0 – 2 lt / ha
*) Pseudomonas flourescens

Perbandingan Alokasi Biaya Produksi dan Hasil Panen pada kebun Apel seluas 1,6 hektar saat berbuah Musim Penghujan

No
Uraian
2004
2005
2006
2007
1.
Biaya beli pestisida (Rp.)
16.828.500
15.334.500
14.274.000
12.259.000
2.
Aplikasi pestisida *)
27 kali
25 kali
24 kali
21 kali
3.
Total Biaya (Rp.)

38.234.000
35.397.500
31.525.500
23.011.000
4.
Hasil panen (ton)
54,739
59,989
- **)
39 **)
5.
Hasil penjualan (Rp)
84.297.700
80.496.000
73.264.000
108.200.000
6.
B/C ratio
1.20
1.27
1.32
3.70
*) Termasuk yang menggunakan bubur california
**) dengan petik kebun
- data tidak lengkap

Dari data di atas nampak bahwa biaya total, biaya dan frekwensi penggunaan pestisida dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Penurunan biaya tertinggi terjadi pada tahun 2007, yaitu setelah pelaksanaan PHT. Tahun 2007, biaya pembelian pestisida lebih murah karena bahan yang digunakan 70 % adalah bubur california dan pengendalian hama /penyakit dilakukan sesuai dengan prinsip PHT. Biaya total tahun 2007 sangat rendah dibandingkan tahun sebelumnya, karena sudah tidak menggunakan pupuk kimia NPK (an organik) dan biaya tenaga kerja dapat dihemat hingga 100 %.
B/C ratio tertinggi diperoleh pada tahun 2007, yaitu setelah penerapan PHT pada dua musim buah. Hal ini menunjukkan bahwa setelah SLPHT dan penerapan PHT di lahan usaha, kami mampu melakukan efisiensi biaya usaha yang sangat tinggi, dan kualitas buah yang dihasilkan jauh lebih baik sehingga harga jualnya juga tinggi.


KEGIATAN PENDUKUNG


1. Kelembagaan Petani
Kegagalan petani dalam pemanfaatan teknologi seringkali terjadi akibat ketidak seimbangan antara kemampuan menerapkan teknologi dengan kemampuan menajemen usaha. Akibatnya manfaat teknologi menjadi tidak terasa. Berdasar pengalaman tersebut, kami merancang adanya kelembagaan usaha yang kuat, mengelola seluruh hamparan, dikelola secara profesional untuk menghasilkan buah apel yang jelas kualitas dan jumlahnya, dan mampu menetapkan harga jual petani. Saat ini, kami telah memiliki unit usaha produksi pupuk organik sebagai embrio kelompok usaha produksi buah apel. Serta pra koperasi yang membidangi kegiatan pemasaran. Harapannya, penjualan apel dapat dikontrol melalui koperasi, dan koperasi mampu membantu pemenuhan kebutuhan hidup petani sehingga tidak mengganggu proses produksi di lahan usaha.
2. Mitra Kerja
  1. Paguyuban Petani Madani, sebagian petani menjadi anggota
  2. BIO Indonesia, Malang : kemitraan untuk teknologi dan sarana produksi pertanian organik dan penjaminan mutu produk.
  3. Lembaga Pemberdayaan Pertanian dan Pedesaan (LP3) Malang : kemitraan untuk bimbingan manajemen usaha ekonomi produktif.

PENUTUP

SLPHT Apel telah mampu menumbuhkan harapan bagi petani untuk meningkatkan pendapatannya. Penerapan PHT telah meningkatkan efisiensi dan efektifitas usahatani apel, memperbaiki kualitas dan menjaga agar tanaman apel terus berproduksi. Pemahaman terhadap agroekosistem, meyakinkan petani untuk menerapkan PHT secara berkelanjutan dalam hamparan yang luas, dan menuju pertanian organik.
Secara bertahap, penggunaan input kimiawi terus berkurang dan penggunaan bahan organik terus meningkatkan. Beberapa petani telah mulai memperbaiki (regenerasi) percabangan bahkan melakukan pangkas habis. Tanaman apel yang tidak sehat juga telah dibuang dari kebun, yang sekaligus untuk memperbaiki jarak tanam. Sehingga diharapkan muncul cabang atau batang pokok baru yang lebih sehat.
Perbaikan kualitas (kesehatan) tanah, tanaman, dan penerapan cara budidaya yang baik yang mengutamakan penggunaan bahan organik, agen hayati dan pelestarian musuh alami telah dilaksanakan pada beberapa lokasi. Jika hal ini terus dilakukan dan meluas pada seluruh hamparan maka kawasan apel organik akan dapat dicapai.
Namun, tahapan dan proses menuju pertanian organik harus dilalui dengan baik, agar memberikan pemahaman yang utuh terhadap bekerjanya suatu sistem kehidupan di kebun apel yang kemudian hasilnya dipetik. Harus selalu diingat untuk mampu mengendalikan jumlah yang boleh dijual dan berapa yang harus dikembalikan ke kebun.
Bantuan berbagai pihak untuk mendukung upaya petani melakukan efisiensi dalam usahatani hingga menerapkan sistem pertanian organik sangat dibutuhkan. Proses produksi dalam budidaya tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor luar, sehingga dukungan semua pihak (bidang pembangunan) yang sinergis sangat dibutuhkan. Secara khusus, perlu ada penghargaan dan kebanggaan tersendiri terhadap produk pertanian organik. Kepedulian seluruh elemen masyarakat dan pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan sektor pertanian merupakan faktor penting untuk mewujudkan tersedianya pangan yang sehat, cukup jumlahnya dan murah harganya. Sudah waktunya petani tidak lagi mensubsidi pangan masyarakat, agar kehidupan petani menjadi sejahtera.
Ucapan terima kasih, secara tulus kami sampaikan, khususnya kepada BPTPH Jawa Timur, Bpk Ir. Nasikin beserta jajarannya, petugas POPT setempat yang telah memungkinkan kami beserta kelompok tani kami, kembali memiliki harapan untuk mempertahankan apel batu dan berharap dapat kembali mewujudkan masa kejayaan petani apel seperti tahun 1980 an.
Share:

Budidaya Apel


Apel merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari daerah Asia Barat dengan iklim sub tropis. Di Indonesia apel telah ditanam sejak tahun 1934 hingga saat ini.

JENIS TANAMAN
Menurut sistematika, tanaman apel termasuk dalam:
1) Divisio : Spermatophyta
2) Subdivisio : Angiospermae
3) Klas : Dicotyledonae
4) Ordo : Rosales
5) Famili : Rosaceae
6) Genus : Malus
7) Spesies : Malus sylvestris Mill
Dari spesies Malus sylvestris Mill ini, terdapat bermacam-macam varietas yang memiliki ciri-ciri atau kekhasan tersendiri. Beberapa varietas apel unggulan antara lain: Rome Beauty, Manalagi, Anna, Princess Noble dan Wangli/Lali jiwo.

MANFAAT TANAMAN
Apel mengandung banyak vitamin C dan B. Selain itu apel kerap menjadi pilihan para pelaku diet sebagai makanan substitusi.

SENTRA PENANAMAN

Di Indonesia, apel dapat tumbuh dan berbuah baik di daerah dataran tinggi. Sentra produksi apel di adalah Malang (Batu dan Poncokusumo) dan Pasuruan (Nongkojajar), Jatim. Di daerah ini apel telah diusahakan sejak tahun 1950, dan berkembang pesat pada tahun 1960 hingga saat ini. Selain itu daerah lain yang
banyak dinanami apel adalah Jawa Timur (Kayumas-Situbondo, Banyuwangi), Jawa Tengah (Tawangmangu), Bali (Buleleng dan Tabanan), Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan. Sedangkan sentra penanaman dunia berada di Eropa, Amerika, dan Australia.

SYARAT TUMBUH
Iklim
1) Curah hujan yang ideal adalah 1.000-2.600 mm/tahun dengan hari hujan 110-150 hari/tahun. Dalam setahun banyaknya bulan basah adalah 6-7 bulan dan bulan kering 3-4 bulan. Curah hujan yang tinggi saat berbunga akan menyebabkan bunga gugur sehingga tidak dapat menjadi buah.
2) Tanaman apel membutuhkan cahaya matahari yang cukup antara 50-60% setiap harinya, terutama pada saat pembungaan.
3) Suhu yang sesuai berkisar antara 16-27 derajat C.
4) Kelembaban udara yang dikehendaki tanaman apel sekitar 75-85%.

Media Tanam
1) Tanaman apel tumbuh dengan baik pada tanah yang bersolum dalam, mempunyai lapisan organik tinggi, dan struktur tanahnya remah dan gembur, mempunyai aerasi, penyerapan air, dan porositas baik, sehingga pertukaran oksigen, pergerakan hara dan kemampuan menyimpanan airnya optimal.
2) Tanah yang cocok adalah Latosol, Andosol dan Regosol.
3) Derajat keasaman tanah (pH) yang cocok untuk tanaman apel adalah 6-7 dan kandungan air tanah yang dibutuhkan adalah air tersedia.
4) Dalam pertumbuhannya tanaman apel membutuhkan kandungan air tanah yang cukup.
5) Kelerengan yang terlalu tajam akan menyulitkan perawatan tanaman, sehingga bila masih memungkinkan dibuat terasering maka tanah masih layak ditanami.

Ketinggian Tempat
Tanaman apel dapat tumbuh dan berbuah baik pada ketinggian 700-1200 m dpl. dengan ketinggian optimal 1000-1200 m dpl.

PEDOMAN BUDIDAYA
Pembibitan
Perbanyakan tanaman apel dilakukan secara vegetatif dan generatif. Perbanyakan yang baik dan umum dilakukan adalah perbanyakan vegetatif, sebab perbanyakan generatif memakan waktu lama dan sering menghasilkan bibit yang menyimpang dari induknya. Teknik perbanyakan generatif dilakukan dengan biji, sedangkan perbanyakan vegetatif dilakukan dengan okulasi atau penempelan (budding), sambungan
(grafting) dan stek.
1) Persyaratan Benih
Syarat batang bawah : merupakan apel liar, perakaran luas dan kuat, bentuk pohon kokoh, mempunyai daya adaptasi tinggi. Sedangkan syarat mata tunas adalah berasal dari batang tanaman apel yang sehat dan memilki sifat-sifat unggul.
2) Penyiapan Benih
Penyiapan benih dilakukan dengan cara perbanyakan batang bawah dilakukan langkah-langkah sebagai beriku t:
a) Anakan / siwilan
1. Ciri anakan yang diambil adalah tinggi 30 cm, diameter 0,5 cm dan kulit batang kecoklatan.
2. Anakan diambil dari pangkal batang bawah tanaman produktif dengan cara menggali tanah disekitar pohon, lalu anakan dicabut beserta akarnya secara berlahan-lahan dan hati-hati.
3. Setelah anakan dicabut, anakan dirompes dan cabang-cabang dipotong, lalu ditanam pada bedengan selebar 60 cm dengan kedalaman parit 40 cm.
b) Rundukan (layering)
1. Bibit hasil rundukan dapat diperoleh dua cara yaitu:
- Anakan pohon induk apel liar: anakan yang agak panjang direbahkan melekat tanah, kemudian cabang dijepit kayu dan ditimbun tanah; penimbunan dilakukan tiap 2 mata; bila sudah cukup kuat, tunas dapat
dipisahkan dengan cara memotong cabangnya.
- Perundukan tempelan batang bawah: dilakukan pada waktu tempelan dibuka (2 minggu) yaitu dengan memotong 2/3 bagian penampang batang bawah, sekitar 2 cm diatas tempelan; bagian atas keratan dibenamkan dalam tanah kemudian ditekuk lagi keatas. Pada tekukan diberi penjepit kayu atau bambu.
2. Setelah rundukan berumur sekitar 4 bulan, dilakukan pemisahan bakal bibit dengan cara memotong miring batang tersebut dibawah keratan atau tekukan. Bekas luka diolesi defolatan.
c) Stek
Stek apel liar berukuran panjang 15-20 cm ( diameter seragam dan lurus), sebelum ditanam bagian bawah stek dicelupkan ke larutan Roton F untuk merangsang pertumbuhan akar. Jarak penanaman 30 x 25 cm, tiap bedengan ditanami dua baris. Stek siap diokulasi pada umur 5 bulan, diameter batang ± 1
cm dan perakaran cukup cukup kuat.
3) Teknik Pembiitan
a) Penempelan
1. Pilih batang bawah yang memenuhi syarat yaitu telah berumur 5 bulan, diameter batang ± 1 cm dan kulit batangnya mudah dikelupas dari kayu.
2. Ambil mata tempel dari cabang atau batang sehat yang berasal dari pohon apel varietas unggul yang telah terbukti keunggulannya. Caranya adalah dengan menyayat mata tempel beserta kayunya sepanjang 2,5-5 cm (Matanya ditengah-tengah). Kemudian lapisan kayu dibuang dengan hati-hati agar matanya tidak rusak
3. Buat lidah kulit batang yang terbuka pada batang bawah setinggi ± 20 cm dari pangkal batang dengan ukuran yang disesuaikan dengan mata tempel. Lidah tersebut diungkit dari kayunya dan dipotong setengahnya.
4. Masukkan mata tempel ke dalam lidah batang bawah sehingga menempel dengan baik. Ikat tempelan dengan pita plastik putih pada seluruh bagian tempelan.
5. Setelah 2-3 minggu, ikatan tempelan dapat dibuka dan semprot/ kompres dengan ZPT. Tempelan yang jadi mempunyai tanda mata tempel berwarna hijau segar dan melekat.
6. Pada okulasi yang jadi, kerat batang sekitar 2 cm diatas okulasi dengan posisi milintang sedikit condong keatas sedalam 2/3 bagian penampang.
Tujuannya untuk mengkonsentrasikan pertumbuhan sehingga memacu pertumbuhan mata tunas.
b) Penyambungan
1. Batang atas (entres) berupa cabang (pucuk cabang lateral).
2. Batang bawah dipotong pada ketinggian ± 20 cm dari leher akar.
3. Potong pucuknya dan belah bagian tengah batang bawah denngan panjang 2-5 cm.
4. Cabang entres dippotong sepanjang ± 15 cm (± 3 mata), daunnya dibuang, lalu pangkal batang atas diiris berbentuk baji. Panjang irisan sama dengan panjang belahan batang bawah.
5. Batang atas disisipkan ke belahan batang bawah, sehingga kambium keduanya bisa bertemu.
6. Ikat sambungan dengan tali plastik serapat mungkin.
7. Kerudungi setiap sambungan dengan kantung plastik. Setelah berumur 2-3 minggu, kerudung plastik dapat dibuka untuk melihat keberhasilan sambungan.
4) Pemeliharaan pembibitan
Pemeliharaan batang bawah meliputi
a) Pemupukan: dilakukan 1-2 bulan sekali dengan urea dan TSP masing-masing 5 gram per tanaman ditugalkan (disebar mengelilingi) di sekitar tanaman.
b) Penyiangan: waktu penyiangan tergantung pada pertumbuhan gulma.
c) Pengairan: satu minggu sekali (bila tidak ada hujan)
d) Pemberantasan hama dan penyakit: disemprotkan pestisida 2 kali tiap bulan dengan memperhatikan gejala serangan. Fungisida yang digunakan adalah Antracol atau Dithane, sedangkan insektisida adalah Supracide atau Decis.
Bersama dengan ini dapat pula diberikan pupuk daun, ditambah perekat Agristic.
5) Pemindahan Bibit
Bibit okulasi grafting (penempelan dan sambungan) dapat dipindahkan ke lapang pada umur minimal 6 bulan setelah okulasi, dipotong hingga tingginya 80-100 cm dan daunnya dirompes.

Pengolahan Media Tanam
1) Persiapan
Persiapan yang diperlukan adalah persiapan pengolahan tanah dan pelaksanaan survai. Tujuannya untuk mengetahui jenis tanaman, kemiringan tanah, keadaan tanah, menentukan kebutuhan tenaga kerja, bahan paralatan dan biaya yang diperlukan.
2) Pembukaan Lahan
Tanah diolah dengan cara mencangkul tanah sekaligus membersihkan sisa-sisa tanaman yang masih tertinggal.
3) Pembentukan Bedengan
Pada tanaman apel bedeng hampir tidak diperlukan, tetapi hanya peninggian alu penanaman.
4) Pengapuran
Pengapuran bertujuan untuk menjaga keseimbangan pH tanah. Pengapuran hanya dilakukan apabila ph tanah kurang dari 6.
5) Pemupukan
Pupuk yang diberikan pada pengolahan lahan adalah pupuk kandang sebanyak 20 kg per lubang tanam yang dicampur merata dengan tanah, setelah itu dibiarkan selama 2 minggu.

Teknik Penanaman
1) Penentuan Pola Tanam
Tanaman apel dapat ditanam secara monokultur maupun intercroping. Intercroping hanya dapat dilakukan apabila tanah belum tertutup tajuk-tajuk daun atau sebelum 2 tahun. Tapi pada saat ini, setelah melalui beberapa penelitian intercroping pada tanaman apel dapat dilakukan dengan tanaman yang berhabitat
rendah, seperti cabai, bawang dan lain-lain. Tanaman apel tidak dapat ditanam pada jarak yang terlalu rapat karena akan menjadi sangat rimbun yang akan menyebabkan kelembaban tinggi, sirkulasi
udara kurang, sinar matahari terhambat dan meningkatkan pertumbuhan penyakit. Jarak tanam yang ideal untuk tanaman apel tergantung varietas. Untuk varietas Manalagi dan Prices Moble adalah 3-3.5 x 3.5 m, sedangkan untuk varietas Rome Beauty dan Anna dapat lebih pendek yaitu 2-3 x 2.5-3 m.
2. Pembuatan Lubang Tanam
Ukuran lubang tanam antara 50 x 50 x 50 cm sampai 1 x 1 x 1 m. Tanah atas dan tanah bawah dipisahkan, masing-masing dicampur pupuk kandang sekurangkurangnya 20 kg. Setelah itu tanah dibiarkan selama ± 2 minggu, dan menjelang tanam tanah galian dikembalikan sesuai asalnya.
3. Cara Penanaman
Penanaman apel dilakukan baik pada musim penghujan atau kemarau (di sawah). Untuk lahan tegal dianjurkan pada musim hujan.
Cara penanaman bibit apel adalah sebagai berikut:
a. Masukan tanah bagian bawah bibit kedalam lubang tanam.
b. Masukan bibit ditengah lubang sambil diatar perakarannya agar menyebar.
c. Masukan tanah bagian atas dalam lubang sampai sebatas akar dan ditambah tanah galian lubang.
d. Bila semua tanah telah masuk, tanah ditekan-tekan secara perlahan dengan tangan agar bibit tertanam kuat dan lurus. Untuk menahan angin, bibit dapat ditahan pada ajir dengan ikatan longgar.

Pemeliharaan Tanaman
1) Penjarangan dan penyulaman
Penjarangan tanaman tidak dilakukan, sedangkan penyulaman dilakukan pada tanaman yang mati atau dimatikan kerena tidak menghasilkan dengan cara menanam tanaman baru menggantikan tanaman lama. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada musim penghujan.
2) Penyiangan
Penyiangan dilakukan hanya bila disekitar tanaman induk terdapat banyak gulma yang dianggap dapat mengganggu tanaman. Pada kebun yang ditanami apel dengan jarak tanam yang rapat (± 3×3 m), peniangan hampir tidak perlu dilakukan karena tajuk daun menutupi permukaan tanah sehingga rumput-rumput tidak dapat tumbuh.
3) Pembubunan
Penyiangan biasanya diikuti dengan pembubunan tanah. Pembubunan dimaksudkan untuk meninggikan kembali tanah disekitar tanaman agar tidak tergenang air dan juga untuk menggemburkan tanah. Pembubunan biasanya dilakukan setelah panen atau bersamaan dengan pemupukan.
4) Perempalan/Pemangkasan
Bagian yang perlu dipangkas adalah bibit yang baru ditanam setinggi 80 cm, tunas yang tumbuh di bawah 60 cm, tunas-tunas ujung beberapa ruas dari pucuk, 4-6 mata dan bekas tangkai buah, knop yang tidak subur, cabang yang berpenyakit dan tidak produkrif, cabang yang menyulitkan pelengkungan, ranting atau daun yang menutupi buah. Pemangkasan dilakukan sejak umur 3 bulan sampai didapat bentuk yang diinginkan(4-5 tahun).
5) Pemupukan
a) Pada musim hujan/tanah sawah
1. Bersamaan rompes daun (

HAMA DAN PENYAKIT Hama
1) Kutu hijau (Aphis pomi Geer)
Ciri: kutu dewasa berwarna hijau kekuningan, antena pendek, panjang tubuh 1,8 mm, ada yang bersayap ada pula yang tidak; panjang sayap 1,7 mm berwarna hitam; perkembangbiakan sangat cepat, telur dapat menetas dalam 3-4 hari. Gejala: (1) nimfa maupun kutu dewasa menyerang dengan mengisap cairan selsel
daun secara berkelompok dipermukaan daun muda, terutama ujung tunas muda, tangkai cabang, bunga, dan buah; (2) kutu menghasilkan embun madu yang akan melapisi permukaan daun dan merangsang tumbuhnya jamur hitam (embun jelaga); daun berubah bentuk, mengkerut, leriting, terlambat berbunga, buah-buah muda gugur,jika tidak mutu buahpun jelek. Pengendalian: (1) sanitasi kebun dan pengaturan jarak tanam (jangan terlalu rapat); (2) dengan musuh alami coccinellidae lycosa; (3) dengan penyemprotan Supracide 40 EC (ba Metidation) dosis 2 cc/liter air atau 1-1,6 liter; (4) Supracide 40 EC dalam 500-800 liter/ha air dengan interval penyemprotan 2 minggu sekali; (5) Convidor 200 SL (b.a. Imidakloprid) dosis 0,125-0,250 cc/liter air; (6) Convidor 200 SL dalam 600 liter/h air dengan interval penyemprotan 10 hari sekali (7) Convidor ini dapat mematikan sampai telur-telurnya; cara penyemprotan dari atas ke bawah. Penyemprotan dilakukan 1-2 minggu sebelum pembungaan dan dilanjutkan 1-1,5 bulan setelah
bunga mekar sampai 15 hari sebelum panen.
2) Tungau, Spinder mite, cambuk merah (panonychus Ulmi)
Ciri: berwarna merah tua, dan panjang 0,6 mm. Gejala: (1) tungau menyerang daun dengan menghisap cairan sel-sel daun; (2) pada serangan hebat menimbulkan bercak kuning, buram, cokelat, dan mengering; (3) pada buah menyebabkan bercak keperak-perakan atau coklat. Pengendalian: (1) dengan musah alami coccinellidae dan lycosa; (2) penyemprotan Akarisida Omite 570 EC sebanyak 2 cc/liter air atau 1 liter Akarisida Omite 570 EC dalam 500 liter air per hektar dengan interval 2 minggu.
3) Trips
Ciri: berukuran kecil dengan panjang 1mm; nimfa berwarna putih kekuningkuningan; dewasa berwarna cokelat kehitam-hitaman; bergerak cepat dan bila tersentuh akan segera terbang menghindar. Gejala: (1) menjerang daun, kuncup/tunas, dan buah yang masih sangat muda; (2) pada daun terlihat berbintikbintik
putih, kedua sisi daun menggulung ke atas dan pertumbuhan tidak normal; (3) daun pada ujung tunas mengering dan gugur (4) pada daun meninggalkan bekas luka berwarna coklat abu-abu. Pengendalian: (1) secara mekanis dengan membuang telur-telur pada daun dan menjaga agar lingkungan tajuk tanaman tidk
terlalu rapat; (2) penyemprotan dengan insektisida seperti Lannate 25 WP (b.a. Methomyl) dengan dosis 2 cc/liter air atau Lebaycid 550 EC (b.a. Fention) dengan dosis 2 cc/liter air pada sat tanaman sedang bertunas, berbunga, dan pembentukan buah.
4) Ulat daun (Spodoptera litura)
Ciri: larva berwarna hijau dengan garis-garis abu-abu memanjang dari abdomen sampai kepala.pada lateral larva terdapat bercak hitam berbentuk lingkaran atau setengah lingkaran, meletakkan telur secara berkelompok dan ditutupi dengan rambut halus berwarna coklat muda. Gejala: menyerang daun, mengakibatkan lubang-lubang tidak teratur hingga tulang-tulang daun. Pengendalian: (1) secara mekanis dengan membuang telur-telur pada daun; (2) penyemprotan dengan penyemprotan seperti Tamaron 200 LC (b.a Metamidofos) dan Nuvacron 20 SCW (b.a. Monocrotofos).
5) Serangga penghisap daun (Helopelthis Sp)
Ciri: Helopelthis Theivora dengan abdomen warna hitam dan merah, sedang HelopelthisAntonii dengan abdomen warna merah dan putih. Serabgga berukuran kecil. Penjang nimfa yang baru menetas 1mm dan panjang serangga dewasa 6-8mm. Pada bagian thoraknya terdapat benjolan yang menyerupai jarum. Gejala : menyerang pada pagi, sore atau pada saat keadaan berawan; menyerang daun muda, tunas dan buah buah dengan cara menhisap cairan sel; daun yang terserang menjadi coklat dan perkembanganya tidak simetris; tunas yang terserang menjadi coklat, kering dan akhirnya mati; serangan pada buah
menyebabkan buah menjadibercak-bercak coklat, nekrose, dan apabila buah membesar, bagian bercak ini pecah yang menyebebkan kualitas buah menurun. Pengendalian : (1) secara mekanis dengan cara pengerondongan atap plastik/pembelongsongan buah. (2) Penyemprotan dengan insektisida seperti
Lannate 25 WP (b.a. Metomyl), Baycarb 500 EC (b.a. BPMC), yang dilakukan pada sore atau pagi hari.
6) Ulat daun hitam (Dasychira Inclusa Walker)
Ciri: Larva mempunyai dua jambul dekat kepala berwarna hitam yang mengarah kearah samping kepala. Pada bagian badan terdapat empat jambul yang merupakan keumpulan seta berwarna coklat kehitam-hitaman. Disepanjang kedua sisi tubuh terdapat rambut berwarna ab-abu. Panjang larva 50 mm. Gejala : menyerang daun tua dan muda; tanaman yang terserang tinggal tulang daundaunnya dengan kerusakan 30%; pada siang hari larva bersembunyi di balik daun. Pengendalian: (1) secara mekanis dengan membuang telur-telur yang biasanya diletakkan pada daun; (2) penyemprotan insektisida seperti : Nuvacron 20 SCW (b.a. Monocrotofos) dan Matador 25 EC.
7) Lalat buah (Rhagoletis Pomonella)
Ciri: larva tidak berkaki, setelah menetas dari telur (10 hari) dapat segera memakan daging buah. Warna lalat hitam, kaki kekuningan dan meletakkan telur pada buah. Gejala: bentuk buah menjadi jelek, terlihat benjol-benjol. Pengendalian: (1) penyemprotan insektisida kontak seperti Lebacyd 550 EC; (2) membuat perangkat lalat jantan dengan menggunakan Methyl eugenol sebanyak 0,1 cc ditetesan pad kapas yang sudah ditetesi insektisida 2 cc. Kapas tersebutkapas tersebut dimasukkan ke botol plastik (bekas air mineral) yang digantungkan ketinggian 2 meter. Karena aroma yang mirip bau-bau yang dikeluarkan betina, maka jantan tertarik dan menhisap kapas.

Penyakit
1) Penyakit embun tepung (Powdery Mildew)
Penyebab : Padosphaera leucotich Salm. Dengan stadia imperfeknya adalah oidium Sp. Gejala: (1) pada daun atas tampak putih, tunas tidak normal, kerdil dan tidak berbuah; (2) pada buah berwarna coklat, berkutil coklat. Pengendalian: (1) memotong tunas atau bagian yang sakit dan dibakar; (2) dengan menyemprotka fungisida Nimrod 250 EC 2,5-5 cc/10 liter air (500liter/Ha) atau Afugan 300 EC 0,5-1 cc/liter air (pencegahan) dan 1-1,5 cc/liter air setelah perompesan sampai tunas berumur 4-5 minggu dengan interval 5-7 hari.
2) Penyakit bercak daun (Marssonina coronaria J.J. Davis)
Gejala : pada daun umur 4-6 minggu setelah perompesan terlihat bercak putih tidak teratur, berwarna coklat, permukaan atas timbul titik hitam, dimulai dari daun tua, daun muda hingga seluruh bagian gugur. Pengendalian: (1) jarak tanam tidak terlalu rapat, bagian yang terserang dibuang dan dibakar; (2) disemprot
fungisida Agrisan 60 WP 2 gram/liter air, dosis 1000-2000 gram/ha sejak 10 hari setelah rompes dengan interval 1 minggu sebanyak 10 aplikasi atau Delseme MX 200 2 gram/liter air, Henlate 0,5 gram/liter air sejak umur 4 hari setelah rompes dengan interval 7 hari hingga 4 minggu.
3) Jamur upas (Cortisium salmonicolor Berk et Br)
Pengendalian: mengurangi kelembapan kebun, menghilangkan bagian tanaman yang sakit.
4) Penyakit kanker (Botryosphaeria Sp.)
Gejala : menyerang batang/cabang (busuk, warna coklat kehitaman, terkadang mengeluarkan cairan), dan buah (becak kecil warna cokelat muda, busuk, mengelembung, berair dan warna buah pucat. Pengendalian : (1) tidak memanen buah terlalu masak; (2) mengurangi kelembapan kebun; (3) membuang bagian yang sakit; (4) pengerokkan batang yang sakit lalu diolesi fungisida Difolatan 4 F 100 cc/10 liter air atau Copper sandoz; (5) disemprot Benomyl 0,5 gram/liter air, Antracol 70 WP 2 gram/liter air.
5) Busuk buah (Gloeosporium Sp.)
Gejala: bercak kecil cokelat dan bintik-bintik hitam berubah menjadi orange. Pengendalian : tidak memetik buah terlalu masak dan pencelupan dengan Benomyl 0,5 gram/liter air untuk mencegah penyakit pada penyimpanan.
6) Busuk akar (Armilliaria Melea)
Gejala : menjerang tanaman apel pada daerah dingin basah, ditandai dengan layu daun, gugur, dan kulit akar membusuk. Pengendalian: dengan eradifikasi, yaitu membongkar/mencabut tanaman yang terserang beserta akar-akarnya, bekas lubang tidak ditanami minimal 1 tahun.

PANEN
Ciri dan Umur Panen
Pada umumnya buah apel dapat dipanen pada umur 4-5 bulan setelah bunga mekar, tergantung pada varietas dan iklim. Rome Beauty dapat dipetik pada umur sekitar 120-141 hari dari bunga mekar, Manalagi dapat dipanen pada umur 114 hari setelah bunga mekar dan Anna sekitar 100 hari. Tetapi, pada musim hujan dan tempat lebih tinggi, umur buah lebih panjang. Pemanenan paling baik dilakukan pada saat tanaman mencapai tingkat masak fisiologis (ripening), yaitu tingkat dimana buah mempunyai kemampuan untuk menjadi masak normal setelah dipanen. Ciri masak fisiologis buah adalah: ukuran buah terlihat maksimal, aroma mulai terasa, warna buah tampak cerah segar dan bila ditekan terasa kres.

Cara Panen
Pemetikan apel dilakukan dengan cara memetik buah dengan tangan secara serempak untuk setiap kebun.

Periode Panen
Periode panen apel adalah enam bulan sekali berdasarkan siklus pemeliharaan yang telah dilakukan.

Prakiraan Produksi
Produksi buah apel sangat tergantung dengan varietas, secara umum produksi apel adalah 6-15 kg/pohon.

PASCAPANEN
Pengumpulan
Setelah dipetik, apel dikumpulkan pada tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung agar laju respirasi berkurang sehingga didapatkan apel yang tinggi kualitas dan kuantitasnya. Pengumpulan dilakukan dengan hati-hati dan jangan ditumpuk dan dilempar-lempar, lalu dibawa dengan keranjang ke gudang untuk diseleksi.

Penyortiran dan Penggolongan
Penyortiran dilakukan untuk memisahkan antara buah yang baik dan bebas penyakit dengan buah yang jelek atau berpenyakit, agar penyakit tidak tertular keseluruh buah yang dipanen yang dapat menurunkan mutu produk. Penggolongan dilakukan untuk mengklasifikasikan produk berdasarkan jenis varietas, ukuran dan kualitas buah.

Penyimpanan
Pada dasarnya apel dapat disimpan lebih lama dibanding dengan buahan lain, misal Rome Beauty 21-28 hari (umur petik 113-120 hari) atau 7-14 hari (umur petik 127- 141 hari). Untuk penyimpanan lebih lama (4-7 bulan), harus disimpan pada suhu minus 6-0 derajat C dengan precooling 2,2 derajat C.

Pengemasan dan Transportasi
Kemasan yang digunakan adalah kardus dengan ukuran 48 x 33 x 37 cm dengan berat 35 kg buah apel. Dasar dan diatas susunan apel perlu diberi potongan kertas dan disusun miring (tangkai sejajar panjang kotak). Dasar kotak diisai 3-3 atau 2-2 atau berselang 3-2 saling menutup ruang antar buah.

ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya apel skala 1 hektar selama masa tanam 6 tahun di daerah Jawa Timur tahun 1999.
a) Biaya produksi
1. Sewa lahan 10 tahun @ Rp. 1.000.000,- Rp. 10.000.000,-
2. Bibit 400 tanaman @ Rp. 3.500,- Rp. 1.400.000,-
3. Pupuk kandang
- Tahun ke-1, 67 m3 @ Rp. 15.000,- Rp. 1.005.000,-
- Tahun ke-2, 83 m3 Rp. 1.245.000,-
- Tahun ke-3, 100 m3 Rp. 1.500.000,-
- Tahun ke-4, 125 m3 Rp. 1.875.000,-
- Tahun ke-5, 150 m3 Rp. 2.250.000,-
- Tahun ke-6, 175 m3 Rp. 2.625.000,-
4. Pupuk Urea
- Tahun ke-1, 80 kg @ Rp. 1.410,- Rp. 112.800,-
- Tahun ke-2, 100 kg Rp. 141.000,-
- Tahun ke-3, 145 kg Rp. 204.450,-
- Tahun ke-4, 152 kg Rp. 214.320,-
- Tahun ke-5, 222 kg Rp. 313.020,-
- Tahun ke-6, 333 kg Rp. 469.530,-
5. Pupuk SP 36
- Tahun ke-1, 65 kg @ Rp. 2.055,- Rp. 133.575,-
- Tahun ke-2, 85 kg Rp. 174.675,-
- Tahun ke-3, 100 kg Rp. 205.500,-
- Tahun ke-4, 100 kg Rp. 205.500,-
- Tahun ke-5, 111 kg Rp. 228.105,-
- Tahun ke-6, 166 kg Rp. 341.130,-
6. Pupuk KCl
- Tahun ke-1, 26 kg @ Rp. 2.550,- Rp. 66.300,-
- Tahun ke-2, 50 kg Rp. 127.500,-
- Tahun ke-3, 73 kg Rp. 186.150,-
- Tahun ke-4, 152 kg Rp. 387.600,-
- Tahun ke-5, 333 kg Rp. 849.150,-
- Tahun ke-6, 500 kg Rp. 1.275.000,-
7. Pupuk daun
- Tahun ke-1, 3 liter @ Rp. 54.000,- Rp. 162.000,-
- Tahun ke-2, 6 liter Rp. 324.000,-
- Tahun ke-3, 8 liter Rp. 432.000,-
- Tahun ke-4, 10 liter Rp. 540.000,-
- Tahun ke-5, 10 liter Rp. 540.000,-
- Tahun ke-6, 10 liter Rp. 540.000,-
8. Obat dan Pestisida (Antracol, Karathane,Nimrod, Dimecron, dll)
- Tahun ke-1 Rp. 3.000.000,-
- Tahun ke-2 Rp. 4.400.000,-
- Tahun ke-3 Rp. 4.840.000,-
- Tahun ke-4 Rp. 5.668.000,-
- Tahun ke-5 Rp. 8.400.000,-
- Tahun ke-6 Rp. 11.104.000,-
9. Peralatan
- Cangkul 20 buah @ Rp. 15.000,- Rp. 300.000,-
- Sprayer 3 buah @ Rp. 300.000,- Rp. 900.000,-
- Gunting Pangkas 5 buah @ Rp. 50.000,- Rp. 250.000,-
10. Tenaga kerja
- Tenaga tetap 1 orang Rp. 960.000,- Rp. 5.760.000,-
- Pengolahan lahan tahun ke-1 15 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 75.000,-
- Pengolahan lahan tahun ke-2-6, 40 HOK @ Rp. 200.000,- Rp. 1.000.000,-
- Buat lubang tanam 70 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 350.000,-
- Penanaman 30 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 150.000,-
- Penyiangan 20 HOK/thn @ Rp. 100.000,- Rp. 600.000,-
- Pemupukan
- Tahun ke-1 dan ke-2, 30 HOK @ Rp. 150.000,- Rp. 300.000,-
- Tahun ke-3 40 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 200.000,-
- Tahun ke-4, 50 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 250.000,-
- Tahun ke 5, 65 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 325.000,-
- Tahun ke-6, 75 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 375.000,-
- Pengendalian HPT
- Tahun ke-1, 24 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 120.000,-
- Tahun ke-2, 36 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 180.000,-
- Tahun ke-3, 48 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 240.000,-
- Penyemprotan Hama
- Tahun Ke-1, 50 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 250.000,-
- Tahun ke-2, 65 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 325.000,-
- Tahun ke-3, 60 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 300.000,-
- Penyemprotan penyakit
- Tahun ke-1, 20 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 100.000,-
- Tahun ke-2, 30 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 150.000,-
- Tahun ke-3, 30 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 150.000,-
- Penyabutan batang
- Tahun ke-2, 16 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 80.000,-
- Tahun ke-3, 20 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 100.000,-
- Tahun ke-4, 30 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 150.000,-
- Tahun ke-5, 50 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 250.000,-
- Tahun ke-6, 50 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 250.000,-
- Pengairan
- Tahun ke-1, 2, 3: 30 HOK/tahun @ Rp. 150.000,- Rp. 450.000,-
- Tahun ke-4, 5, 6: 40 HOK @ Rp. 200.000,- Rp. 600.000,-
- Pemangkasan
- Tahun ke-2, 22 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 110.000,-
- Tahun ke-3, 30 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 150.000,-
- Tahun ke-4, 50 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 250.000,-
- Tahun ke-5, 60 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 300.000,-
- Tahun ke-6, 60 HOK @ Rp. 5.000,- Rp. 300.000,-
Jumlah biaya produksi selama 6 tahun Rp. 83.125.305,-
2) Pendapatan (mulai produksi tahun ke-3)
1. Tahun ke-3: 2.900 kg @ Rp. 5.000,- Rp. 14.500.000,-
2. Tahun ke-4: 3.825 kg @ Rp. 5.000,- Rp. 19.125.000,-
3. Tahun ke-5: 4.990 kg @ Rp. 5.000,- Rp. 24.950.000,-
4. Tahun ke-6: 6.760 kg @ Rp. 5.000,- Rp. 33.800.000,-
Total pendapatan Rp. 92.375.000,-
3) Keuntungan dalam 6 tahun Rp. 9.249.695,-
4) Parameter kelayakan usaha
1. B/C ratio = 1,1
Menurut analisis Pudji Santoso dkk (1988) dalam Bambang Sularso menunjukan bahwa BEP usaha tani apel pada tanah sawah Rp. 33.916.000 dan untuk tanah tegal Rp. 45.034.000 dapat dicapai pada skala minimum seluas 0,164 ha (sawah) dan 0,39 ha (tegal). Hal ini berarti bahwa bila petani menanam apel lebih dari skala minimum tersebut, petani telah mendapatkan keuntungan.

Gambaran Peluang Agribisnis
Dari segi agribisnis, apel tergolong tanaman yang sangat komersial. Hal ini didukung oleh beberapa alasan yaitu:
1) Iklim: Apel merupakan tanaman yang selektif. Artinya apel merupakan tanaman yang hanya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada daerah-daerah tertentu yang iklimnya menunjang. Di dunia tanaman apel banyak diproduksi oleh negara-negara empat musim, sedangkan didaerah tropis hanya beberapa daerah yang berhasil misalnya Malang.
2) Pasar apel Indonesia; selama ini pasar apel Indonesia dipenuhi melalui impor dari negara-negara Eropa dan Australia. Sejak bekembangnya apel di Indonesia pasar ini sedikit demi sedikit diambil alih oleh produksi dalam negeri. Hal ini dapat dilihat data BPS yang menunjukkan peningkatan produksi apel nasional 7.303.372 ton (1984) menjadi 9.046.276 ton (1988) atau meningkat 17,5%. Target akhir adalah pemenuhan konsumsi nasional dan ekspor.
3) Faktor lain; yaitu pengembangan apel sebagai komoditi agrowisata dan pengembangan makanan olahan dari apel seperti jenang apel dan jelli apel.

STANDAR PRODUKSI
Ruang Lingkup
Standar produksi ini meliputi: syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengambilan contoh dan cara pengemasan.

Klasifikasi dan Standar Mutu
Standar mutu yang selama ini berlaku:
a) Grade A = 15,9% (31-4 buah/kg)
b) Grade B = 45,2% (5-7 buah/kg)
c) Grade C = 29,6% (8-10 buah/kg)
d) Grade D = 7,0% (11-15 buah/kg)

Pengambilan Contoh
Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan seperti terlihat di bawah ini. Dari setiap kemasan diambil contoh sebanyak 20 buah dari bagian atas, tengah dan bawah. Contoh tersebut diacak bertingkat (startified random sampling) sampai diperoleh minimum 20 buah untuk dianalisis.
a. Jumlah kemasan dalam partai (lot) sampai dengan 100, contoh yang diambil 5.
b. Jumlah kemasan dalam partai (lot) 101 sampai dengan 300, contoh yang diambil 7.
c. Jumlah kemasan dalam partai (lot) 301-500, contoh yang diambil 9.
d. Jumlah kemasan dalam partai (lot) 501-1000, contoh yang diambil 10.
e. Jumlah kemasan dalam partai (lot) lebih dari 1000, contoh yang diambil 15 (minimum).
Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang berpengalaman atau dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan badan hukum.

Pengemasan
Buah apel dikemas dengan peti kayu/bahan lain yang sesuai dengan berat bersih maksimum 30 kg. Dibagian luar kemasan diberi label yang bertuliskan antara lain : nama barang, golongan ukuran, jenis mutu, nama/kode perusahaan, berat bersih, negara/tempat tujuan, hasil Indonesia, daerah asal.

Share:

Pengikut