Rabu, 30 Maret 2016

Analisis Usaha Budidaya Jahe Gajah Masa Panen 3 Bulan

Prospek usaha tani jahe gajah di Indonesia masih sangat terbuka lebar, mengingat tingkat kebutuhan jahe di dalam dan di luar negeri dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang cukup pesat, seiring dengan pesatnya perkembangan industri jamu, industri obat-obatan, industri makanan dan minuman yang menggunakan bahan baku jahe.

Dari beberapa jenis jahe yang ada, hanya jenis jahe gajah yang bisa dipanen pada usia muda yaitu pada usia 3-4 bulan. Karena pada umur tersebut rimpangnya sudah laku dipasarkan dan biasanya digunakan untuk asinan jahe, bahkan permintaan jahe gajah muda di manca negara cukup besar.


Berikut ini disajikan analisis usaha budidaya jahe gajah masa panen 3 bulan yang dapat digunakan sebagai tolok ukur untuk memulai usaha tani jahe gajah.

No
Keterangan
Volume
Satuan
Harga Satuan (Rp.)
Jumlah (Rp.)
I
Biaya





1. Sewa tanah
1
unit
2.000.000
2.000.000

2. Bibit Jahe Gajah
3.500
Kg
20.000
70.000.000

3. Pupuk kandang
20.000
Kg
150
3.000.000

4. Pupuk :





    - Urea
250
Kg
1.800
450.000

    - TSP
250
Kg
2.200
550.000

    - KCL
250
Kg
2.400
600.000

5. Mulsa
10.000
Kg
250
2.500.000

6. Obat-obatan
5
Kg
200.000
1.000.000

7. Peralatan





     - Cangkul
5
Buah
75.000
375.000

     - Sprayer
1
Buah
750.000
750.000

     - Timbangan
1
Buah
650.000
650.000

     - Sabit
5
Buah
25.000
125.000

     - Rak bibit
1
Unit
500.000
500.000

     - Ember
10
Buah
10.000
100.000

     - Keranjang
40
Buah
5.000
200.000

8. Tenaga Kerja





     - Pengolahan tanah
150
HOK
65.000
9.750.000

     - Penanaman bibit
50
HOK
65.000
3.250.000

     - Pemberian mulsa
30
HOK
65.000
1.950.000

     - Penyiangan
30
HOK
65.000
1.950.000

     - Pembumbuman
30
HOK
65.000
1.950.000

     - Pemupukan
50
HOK
65.000
3.250.000

     - Pemanenan
100
HOK
65.000
6.500.000

     - Pasca panen
50
HOK
65.000
3.250.000

9. Biaya lain-lain
1
unit
1.000.000
1.000.000

TOTAL BIAYA



115.650.000
II
PENERIMAAN
18.000
Kg
8.500
153.000.000
III
KEUNTUNGAN



37.350.000

PROSENTASE KEUNTUNGAN



32,30%

Demikianlah analisis usaha budidaya jahe gajah masa panen 3 bulan, semoga bermanfaat bagi para pengusaha pemula yang ingin membudidayakan jahe gajah dalam skala besar.
Share:

Selasa, 01 Maret 2016

Panduan Lengkap Budidaya Lada

Tanaman lada termasuk tanaman rempah yang banyak dikembangkan di Indonesia. PT. Natural Nusantara berupaya membantu meningkatkan produksi tersebut secara kuantitas, kualitas dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan(Aspek K-3). SYARAT PERTUMBUHAN2.1. Iklim- Curah hujan 2.000-3.000 mm/th. - Cukup sinar matahari (10 jam sehari). - Suhu udara 200C - 34 0C. - Kelembaban udara 50% - 100% lengas nisbi dan optimal antara 60% - 80% RH. - Terlindung dari tiupan angin yang terlalu kencang. 2.2. Media Tanam- Subur dan kaya bahan organik - Tidak tergenang atau terlalu kering - pH tanah 5,5-7,0 - Warna tanah merah sampai merah kuning seperti Podsolik, Lateritic, Latosol dan Utisol. - Kandungan humus tanah sedalam 1-2,5 m. - Kelerengan/kemiringan lahan maksimal ± 300. - Ketinggian tempat 300-1.100 m dpl. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA 3.1. Pembibitan- Terjamin kemurnian jenis bibitnya - Berasal dari pohon induk yang sehat - Bebas dari hama dan penyakit - Berasal dari kebun induk produksi yang sudah berumur 10 bulan-3 tahun (Kebutuhan bibit ± 2.000 bibit tanaman perhektar) 3.2. Pengolahan Media Tanama. Cangkul 1, pembalikan tanah sedalam 20-30 cm. b. Taburkan kapur pertanian dan diamkan 3-4 minggu. Dosis kapur pertanian : - Pasir dan Lempung berpasir: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 0,9 ton/ha. - Lempung: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 1,7 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 0,9 ton/ha. - Lempung Berdebu: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 2,6 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 3,2 ton/ha. - Lempung Liat: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 3,4 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 4,2 ton/ha. c. Cangkul 2, haluskan dan ratakan tanah 3.3. Teknik Penanaman- Sistem penanaman adalah monokultur (jarak tanam 2m x 2m). Tetapi juga bisa ditanam dengan tanaman lain. - Lubang tanam dibuat limas ukuran atas 40 cm x 35 cm, bawah 40 cm x 15 cm dan kedalaman 50 cm. - Biarkan lubang tanam 10-15 hari barulah bibit ditanam. - Waktu penanaman sebaiknya musim penghujan atau peralihan dari musim kemarau kemusim hujan, pukul 6.30 pagi atau 16.30-18.00 sore. - Cara penanaman : menghadapkan bagian yang ditumbuhi akar lekat kebawah, sedangkan bagian belakang (yang tidak ditumbuhi akar lekat) menghadap keatas. - Taburkan pupuk kandang 0,75-100 gram/tanaman yang sudah dicampur NATURAL GLIO. - Tutup lubang tanam dengan tanah galian bagian atas yang sudah dicampur pupuk dasar : - NPK 20 gram/tanaman - Untuk tanah kurang subur ditambahkan 10 gram urea, 7 gram SP 36 dan 5 gram KCl per tanaman. - Segera setelah ditutup, disiram SUPERNASA : - Alternatif 1 : 0,5 sendok makan/ 5 lt air per tanaman. - Alternatif 2 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 20 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon. - Pemberian SUPERNASA selanjutnya dapat diberikan setiap 3 - 4 bulan sekali. 3.4. Pemeliharaan Tanaman3.4.1. Pengikatan Sulur PanjatPanjatkan pada tiang panjat menggunakan tali. Ikatkan dengan dipilin dan dilipat hingga mudah lepas bila sulur tumbuh besar dan akar lekatnya sudah melekat pada tiang panjat. 3.4.2. Penyiangan dan PembumbunanPenyiangan setiap 2-3 bulan sekali. Pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan. 3.4.4. PerempalanPerempalan atau pemangkasan dilakukan pada: Batang, dahan, ranting yang tidak produktif, atau terserang hama dan penyakit. Pucuk/batang, karena tidak memiliki dahan yang produktif Batang yang sudah tua agar meremajakan tanaman menjadi muda kembali. 3.4.5. Pemupukan SusulanPenyemprotan POC NASA (4-5 tutup) atau POC NASA (3- 4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) per tangki setiap 3 - 4 minggu sekali. Pupuk makro diberikan sebagai berikut :
Umur (bln)
Pupuk makro (gram/pohon)
Urea
SP 36
KCl
3-4
35
15
20
4-5
35
20
25
5-6
35
25
30
6-17
35
30
35
3.4.6. Pengairan dan PenyiramanPada musim kemarau penyiraman sehari sekali di sore hari. Pada musim hujan tidak boleh tergenang. 3.4.7. Pemberian MulsaUsia 3-5 bulan, beri mulsa alami berupa dedaunan tanaman tahunan ataupun alang-alang. 3.4.8. Penggunaan Tajar ( Ajir)Sebaiknya gunakan tajar mati dari bahan kayu. Pangkal tajar diruncingkan, bagian ujung dibuat cabang untuk menempatkan batang lada yang panjangnya telah melebihi tinggi tajar. Panjang tajar 2,5-3 m.. 3.5. Hama dan Penyakit 3.5.1. Hamaa. Hama Penggerek Batang (Laphobaris Piperis)Ciri: berwarna hitam, ukuran 3-5 mm. Serangga dewasa lebih suka menyerang bunga, pucuk daun dan cabang-cabang muda. Akibat lain bila Nimfanya (serangga muda) berupa ulat akan menggerek batang dan cabang tanaman. Pengendalian: memotong cabang batang; penyemprotan PESTONA. b. Hama bunga Ciri: Serangga dewasa berwarna hitam, sayap seperti jala, terdapat tonjolan pada punggungnya, ukuran panjang tubuh 4,5 mm dan lebar 3 mm. Gejala: serangga dewasa/nimfanya menyerang bunga berakibat bunga rusak dan menimbulkan kegagalan pembuahan, siklus hidupnya sekitar 1 bulan. Pengendalian: penyemprotan PESTONA, serta dapat juga dilakukan pemotongan pada tandan bunga. c. Hama buah Ciri: serangga berwarna hijau kecoklatan, nimfanya tidak bersayap, berwarna bening dan empat kali ganti kulit. Serangga dewasa atau nimfanya menyerang buah sehingga isi buah kosong. Telurnya biasa diletakkan pada permukaan daun atau pada tandan buah, siklus hidupnya sekitar 6 bulan. Pengendalian: musnahkan telur dipermukaan daun, cabang, dan yang ada pada tandan buah. Gunakan PESTONA. 3.5.2. Penyakita. Penyakit busuk pangkal batang (BPP) Penyebab: jamur Phytopthora Palmivora Var Piperis. Gejala: awal serangan sulit diketahui. Bagian yang mulai terserang pada pangkal batang memperlihatkan garis-garis coklat kehitaman dibawah kulit batang. Daun berubah warna menjadi layu (berwarna kuning). Pencegahan : penanaman jenis lada tahan penyakit BPB. Pemberian Natural Glio sebelum dan sesudah tanam. b. Penyakit kuning Penyebab: tidak terpenuhinya berbagai persyaratan agronomis serta serangan cacing halus (Nematoda) Radhophalus similis yang mungkin berasosiasi dengan nematoda lain seperti Heterodera SP, M incognita dan Rotylenchus Similis. Gejala: menyerang akar tanaman lada, ditandai menguningnya daun lada, akar rambut mati, membusuk dan berwarna hitam. Cepat lambatnya gejala daun menguning tergantung berat ringannya infeksi dan kesuburan tanaman. Pengendalian: Pemberian pupuk kandang, pengapuran, pemupukan tepat dan seimbang, pemberian Natural Glio sebelum dan sesudah tanam. Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. 3.6. Panen3.6.1. Ciri dan Umur PanenPanen pertama umur tiga tahun atau kurang. Ciri-ciri: tangkainya berubah agak kuning dan sudah ada buah yang masak (berwarna kuning atau merah). 3.6.2. Cara PanenPemetikan dari buah bagian bawah hingga buah bagian atas, dengan mematahkan persendian tangkai buah yang ada diketiak dahan. 3.6.3. Periode PanenPeriode panen sesuai iklim setempat, jenis lada yang ditanam dan intensitas pemeliharaan.
Share:

Sabtu, 08 Agustus 2015

Prospek Budidaya Cabai Jamu

Cabai jawa, cabai jamu, lada panjang, atau cabai saja (Piper retrofractum Vahl. syn. P. longum) adalah kerabat lada dan termasuk dalam suku sirih-sirihan atau Piperaceae. Dikenal pula sebagai cabai solak (Madura) dan cabia (Sulawesi). Tumbuhan asli Indonesia ini populer sebagai tanaman obat pekarangan dan tumbuh pula di hutan-hutan sekunder dataran rendah (hingga 600m di atas permukaan laut).

Tumbuhan ini produknya telah dikenal oleh orang Romawi sejak lama dan sering dikacaukan dengan lada. Di Indonesia sendiri buah keringnya digunakan sebagai rempah pemedas. Sebelum kedatangan cabai (Capsicumspp.), tumbuhan inilah yang disebut "cabai". Cabai sendiri oleh orang Jawa dinamakan "lombok".

Cabai jamu dapat tumbuh di lahan ketinggian 0-600 meter di atas permukaan laut (dpl), dengan curah hujan rata-rata 1.259-2.500 mm/tahun. Tanah lempung berpasir, dengan struktur tanah gembur dan berdrainase baik, merupakan lahan yang cocok untuk budidaya cabai jamu. Tanaman itu memiliki keunggulan dapat tumbuh di lahan kering berbatu. Keberadaan tanggul batu di pematang tegalan dapat dijadikan media merambatnya cabai jamu secara alami
Bentuk tanamannya seperti sirih, merambat, memanjat, membelit, dan melata. Daunnya berbentuk bulat telur sampai lonjong, pangkal daun berbentuk jantung atau membulat, ujung daun runcing dengan bintik-bintik kelenjar. buahnya majemuk bulir, bentuknya bulat panjang atau silindris, dan ujungnya mengecil. Buah yang belum tua berwarna kelabu, kemudian menjadi hijau, selanjutnya kuning, merah, serta lunak. Rasanya pedas dan tajam aromatis.

Buah cabai jamu memiliki khasiat sebagai obat sakit perut, masuk angin, beri-beri, rematik, tekanan darah rendah, kolera, influenza, sakit kepala, lemah syahwat, bronkitis, dan sesak napas. Karena itu, cabai jamu banyak dibutuhkan sebagai bahan pembuatan jamu tradisional dan obat pil/kapsul modern serta bahan campuran minuman. Rasa pedasnya berasal dari senyawa piperin, dengan kandungan sekitar 4,6 persen. Salah satu jamu populer yang mengandung cabai jamu adalah cabai puyang, yang dibuat dengan bahan utama cabai jamu dan lempuyang.

Cabai jawa berkhasiat juga sebagai insektisida nabati. Formulasi insektisida nabati campuran ekstrak cabai jawa atau P. retrofractum dan Annona squamosa efektif dalam upaya menekan persentase kehilangan hasil tomat dan juga seranganHelicoverpa armigera. Fraksi heksana cair, fraksi III VLC-EtOAc, dan ekstrak metanol langsung cabai jawa aktif sebagai racun perut terhadap larva Crocidolomia pavonana. Ekstrak Aglaia odorata dan P. retrofractum pada konsentrasi 0,5% dan 1% dapat mematikan rayap tanah hingga lebih dari 80% dan menunjukkan kamampuan penetrasi lapisan tanah oleh rayap sebesar 0%. Cabai jawa memiliki keaktifan juga dalam perlakuan benih. Perlakuan serbuk cabai jawa dan penjemuran terbukti efektif dalam menghambat perkembangan Callosobruchus maculatus serta tidak menurunkan daya kecambah benih kacang hijau. Perlakuan serbuk cabe jawa dan merica serta penjemuran selama satu minggu, yaitu dapat menghambat perkembangan hingga lebih dari 90%.

Selain bersifat insektisida, cabai jawa juga memiliki sifat fungisida. Piper retrofractum secara in vitro dan in vivo dapat menekan perkembangan cendawan terbawa benih padi dan kedelai. 
Cabe jamu disebut karena rasanya yang agak pedas seperti cabe dan dipercaya berfungsi sebagai jamu untuk kesehatan dan kebugaran bagi yang mengkonsumsinya padahal  tumbuhan ini tumbuh tidak seperti cabe tapi mirip tanaman merica, piper retrofractum vahl ini ialah kerabat lada dan digolongkan kedalam suku sirih atau sirih-sirihan (piperaceae). Cabe jamu tumbuh baik disemua iklim dan dataran, semakin tua umurnya semakin tinggi produktifitasnya. Berbeda dengan cabe rawit hanya bertahan 1 tahun sesudah itu akan layu dan mati. Pada umur 3 bulan atau lebih sudah bisa dilakukan panen perdana.

Syarat hidup : Ph tanah 5,5-7,5; Tekstur tanah gembur; Ketinggian 1-600 dpl; Curah hujan 1200-2500 mm pertahun; Kelembaban udara 40-80%.
Budidaya dan langkah-langkahnya.

Menanam dan pembiakan cabe jamu tidak serumit cabe keriting. Hanya perlu ketelatenan perawatan seperti menghilangkan rumput pengganggu (gulma).  Benih awal ditanam di polybag pada waktu umur 2 bulan sudah bisa dipindah kelahan terbuka.  Agar tumbuh maksimum ketepatan takaran pemberian pupuk yang diperlukan. Pemberian pupuk tahi atau kotoran sapi, kotoran hewan (kohe) harus di fermentasi selama 7-10 hari.  Stek, bagian tubuh pohon dijadikan benih (stek)  dari sulur berbentuk vertika.  Jarak tanam 90-150 cm. Pemupukan; Organik, pupuk kohe yang difermentasi, 5 kg perpohon sebanyak 2X, awal musim hujan dan akhir musim hujan.  An-organik, tsp, urea, npk, Sp-36, diberikan setelah tanaman berumur 3 bulan sesudah itu serentak bersamaan dengan pupuk organik. Masing-masing jenis bisa diberikan 50 gram per ohon hingga umur 1 tahun dan meningkat atau ditambah sebanyak 25 gram setiap tahunnya.  Pupuk tambahan diberikan dengan mengkonsultasikan dengan ahlinya.

Manfaat : Membersihkan rahim wanita sehabis melahirkan. Gangguan Afrodisiak kaum pria.  Bronchitis, ayan, menguatkan jantung dan paru-paru.  Penghangat tubuh. 

Pemasaran; Kebutuhan pasar seperti halnya tetumbuhan yang digunakan sebagai pencegah dan kebugaran tubuh manusia tidak bisa di prediksi tepat seperti halnya komoditas untuk konsumsi kuliner namun cabe jamu pada detik ini di level pengepul dan pedagang kesulitan membeli dalam jumlah besar. Harga fluktuatif mengikuti irama pasar. Harga ditingkat petani saat ini Rp.100 ribu per kg. Harga terendah paling sial turun di harga Rp.50 ribu per kg. Dibandingkan cabe rawit, cabe jawa atau cabe keriting jika sedang terjadi over produksi (booming) bisa terjun bebas di angka Rp.4.000 per kg nya.  Hasil dengan penanganan maksimum pada usia 2 tahun diperoleh panen 2,4 ons perbatang perbulan. Jika 5000 batang dalam 1 hektar anda akan mendapatkan hasil panen 12.000 ons perbulan atau 1200 kg.
Share:

Pengikut