Minggu, 05 April 2015

Meraup Rupiah dari Budidaya Jabon


Dalam beberapa dekade terakhir ini, hasil kayu alam (kayu hutan) semakin menurun, sementara kebutuhan terhadap bahan baku kayu terus meningkat. Keadaan ini tentu mengkhawatirkan dengan makin menipisnya lahan hutan, sekaligus mengancam lingkungan hidup. Namun, jika dilihat secara positif, situasi tersebut merupakan peluang usaha untuk membudidayakan kayu. Tentu saja yang dilirik adalah jenis tanaman kayu keras berbatang besar dan cepat tumbuh. Salah satu yang sedang dikembangkan dan menjadi andalan industri kayu saat ini adalah jabon (Anthocephalus cadamba).

Tanaman ini  memiliki karakteristik selfpruning atau cabang akan rontok dengan sendirinya seiring dengan bertambah tingginya batang pohon sehingga log yang didapatkan akan berbentuk lurus nyaris tanpa mata.

Jabon mudah dipelihara dan lebih tahan terhadap serangan hama. Itulah sebabnya tanaman jabon mulai menggantikan posisi sengon yang lebih  mudah terserang penyakit dan perlu perawatan berupa penebangan ranting. Jabon merupakan salah satu jenis kayu yang pertumbuhannya sangat cepat dan dapat tumbuh subur di hutan tropis dengan ketinggian 0–1000 meter di atas permukaan laut.


Dengan situasi kebutuhan kayu yang meningkat, sementara pemerintah melarang penggunaan kayu bulat hasil tebangan hutan alam, di masa mendatang, harga kayu jabon akan makin menjanjikan pendapatan.

Keunggulan Jabon
Pohon Jabon dikenal juga dengan sebutan kayu kadamba. Di Sulawesi, jabon dikenal berbagai nama antara lain bance, pute, loeraa, pontua, sugi manai,
pekaung, atau toa. Tanaman ini mampu beradaptasi dengan berbagai jenis lahan tanah. Dari kunggulannya itu, jabon dimanfaatkan sebagai tumbuhan perintis untuk menghijauan pada lahan kritis atau bekas pertambangan. Jadi tanaman ini berpotensi untuk menyelamatkan lingkungan dan menjadi penyimpan cadangan air.

Jabon memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena masa penebangan tidak memakan waktu yang lama. Tanaman ini kayunya sudah bisa ditebang di usia 4
sampai 5 tahun. Pada usia ini, jabon bisa mencapai tinggi 12 meter dengan diameter 30 sentimeter; atau bisa menghasilkan kayu sekitar 1,5 kubik per pohon.


Untuk mendapatkan bibit jabon juga tidak sulit. Pohon jabon selalu berbuah setahun sekali. Setiap buah akan menghasilkan biji yang siap disemaikan
sebagai bibit tanaman Jabon. Pembibitan jabon juga merupakan suatu peluang usaha, sebab bibit Jabon sangat diminati dan banyak dicari.

Sebagai gambaran, saat ini rata-rata harga bibit jabon dengan tinggi 50 sampai
dengan 70 cm dapat dijual dengan harga Rp 900,- s.d. Rp 1400,-. Sementara
itu, harga kayu jabon setinggi 12 meter dengan diameter 30 hingga 40 sentimeter, dihargakan sekitar satu juta rupiah per pohon.


Jabon merupakan jenis kayu yang memiliki tekstur kayu yang lebih halus dibanding kayu lainnya. Bentuknya silinder lurus dengan warna putih  kekuningan.

Karena teksturnya yang halus, kayu jabon mudah direkatkan dan memiliki permukaan yang mengkilap. Kayu jabon juga tidak cepat keropos sehingga tahan lama (awet).

Keunggulan lain dari tanaman ini meliputi:
  • ü  Usia tanam yang relatif singkat (sekitar 4-5 tahun).
  • ü  Dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah seperti tanah liat, lempung, maupun tanah berbatu.
  • ü  Pemeliharaan tidak terlalu rumit.
  • ü  Tidak memerlukan pemangkasan karena pada masa pertumbuhan cabang dan daun akan rontok sendiri.
  • ü  Memiliki batang berbentuk silinder dan lurus.
  • ü  Tahan terhadap penyakit tanaman (tumor karat).
  • ü  Banyak dibutuhkan industri kayu lapis, meubel, pulp (bubur kertas) dan bahan bangunan kayu.


Cara Budidaya
Penyemaian Bibit
  • ü  Tebarkan benih yang berasal dari biji pada media pasir halus. Pembenihan dilakukan dengan menggunakan wadah bak plastik yang telah dilubangi bagian bawahnya. Hal ini untuk memudahkan penyiraman benih.
  • ü  Penyiraman dilakukan dengan cara memasukkan bak yang berisi benih ke bak lain yang berisi air sehingga air merembes dari bagian bawah bak benih.
  • ü  Lakukan pengamatan dan pemberantasan hama penyakit.
  • ü  Setelah daun berukuran 1 cm, benih dipindahkan ke dalam polybag yang telah diisi dengan tanah dan kpmpos dengan perbandingan 2 : 1.
  • ü  Penaman bibit jabon dapat dilakukan pada berbagai keadaan tanah. Namun alangkah baik jika ditanam di tanah yang subur dengan penataan drainase yang baik.


Adapun cara menanamnya:
  • • Buat lubang tanam dengan berukuran 30 x 30 x 30 cm atau 40 x 40 x 40 cm.
  • • Jarak tanam antar pohon bisa bervariasi yaitu 3 x 2 m, 4 x 4 m dan yang paling dianjurkan adalah jarak 4 x 5 m.
  • • Masukan campuran kompos dan pupuk NPK 2,5 gram ke dasar lubang sebagai
  • pupuk dasar diendapkan dilubang setinggi 30 cm. Setelah 3-7 hari, tanam bibit yang tekah dikeluarkan dari polybag, lalu timbun dengan mengunakan campuran tanah dan kompos setinggi 20 cm sehingga akar benar-benar tertimbun. Penimbunan jangan terlalu padat supaya lubang memiliki kantong air dan bibit mudah menyerap air.
  • • Pada tahun pertama lakukan pemupukan dengan NPK sekitar 0-100 gram (sebaiknya dilakukan di musim hujan).
  • • Pada usia 1-2 tahun, dilakukan pemupukan dengan campuran kompos atau pupuk kandang sekitar 0,5 kg dengan NPK sekitar 2,5 ons.
  • • Pada usia 2-3 tahun pemupukan dengan campuran kompos atau pupuk kandang 10 kg dengan NPK 5 ons.Pemupukan pada usia itu dapat dengan pupuk kandang atau kompos sekitar 20 kg.
  • • Pemupukan ditebarkan di sekeliling batang pangkal pohon supaya tidak
  • mengenai batang pangkal pohon. Perawatan
  • • Saat tanaman masih muda dapat dilakukan penyemprotan dengan pestisida untuk membunuh ulat-ulat pemakan daun. Ulat ini tidak mematikan tumbuhan, tetapi hanya menghambat pertumbuhan jabon.
  • • Penyemprotan bisa dilakukan secara aktif 1-2 minggu sekali selama 3-5 bulan tergantung keadaan gangguan, agar daun tidak dimakan ulat. Setelah daun cukup banyak, penyemprotan ini tidak perlu dilakukan lagi.
  • • Bersihkan gulma dan rumput sekitar pohon dari tumbuhan lain supaya tidak mengganggu pertumbuhan, sekaligus unsur hara bisa terserap maksimal oleh pohon.
  • • Sampah dan serasah dikumpulkan membentuk lingkaran mengelilingi pohon dengan radius 1 meter, supaya terdekomposisi menjadi unsur hara yang dibutuhkan dalam pertumbuhan pohon. Perawatan ini dilakukan minimal sampai usia 1 tahun.


Penghasilan Tambahan
Untuk mengoptimalkan hasil dari lahan sebelum panen pohon jabon bisa dimanfaatkan dengan melakukan tumpang-sari yang tidak mengganggu pertumbuhan pohon jabon seperti palawija (kacang-kacangan), kunyit, cabe, dan lain-lain.

Pemanenan atau Penebangan
Proses pemanenan atau penebangan akan berpengaruh besar pada kualitas kayu jabon yang dihasilkan. Maka diperlukan penanganan pemanenan yang tepat supaya memberi hasil yang memuaskan. Waktu penebangan yang baik
dilakukan saat pohon benar-benar berumur dewasa (sekitar usia 5 tahun), kecuali pada saat penjarangan pohon pada usia 3 tahun.

Pilih pohon yang diameternya layak terbang (sekitar 35 - 40 cm). Penebangan dilakukan pada saat musim kemarau, supaya kualitas kayu yang dihasilkan tidak mengandung air terlalu tinggi.

Amati arah tebangan agar tidak menimpa pohon lain ketika pohon yang ditebang rubuh. Sebelum menebang sebaiknya dilakukan pemang kasan cabang dan ranting pohon untuk mengurangi kerusakan yang akan ditimbulkan oleh jatuhnya pohon jabon. Potonglah pohon yang telah ditebang dan dibersihkan sesuai ukuran, untuk memudahkan pengangkutan dan pengolahan.
Share:

Rabu, 18 Maret 2015

Cara Mencegah Kerontokan Bunga dan Buah Durian


Periode berbunga dan berbuah suatu tanaman adalah saat yang paling dinantikan oleh penanam karena harapan terbesar penanam adalah memanen buah dari tanaman yang sudah dirawat dengan baik dan dalam kurun waktu yang cukup panjang. Namun, harapan ini terkadang tidak menjadi kenyataan karena bunga rontok dan berguguran sebelum berkembang sempurna, berubah menjadi bakal buah. Kalaupun berubah, bakal buah yang terbentuk hanya berjumlah sangat sedikit.

Secara umum, kerontokan bakal buah pasca persarian bunga, disebabkan karena beberapa faktor :

Kerontokan karena faktor fisiologis kimiawi :
Kandungan nutrisi, khususnya hara fosfat (P) dan kalium (potassium = K) yang terbatas dalam tanah atau media tanam tabulampot menjadi faktor penyebab utama kerontokan bunga dan bakal buah atau buah yang sedang mengalami proses pembesaran. Jika kandungan kalium dalam tanah sangat terbatas, maka kerontokan buah akan menjadi lebih banyak. Kerontokan buah ini akan semakin parah jika pasokan air dari dalam tanah ke tanaman juga terbatas. Jika kerontokan buah disebabkan oleh faktor malnutrisi kalium, maka pemberian pupuk kalium, baik dalam bentuk tunggal (Kalium Chloride, KCl) maupun dalam bentuk majemuk (Kalium nitrate, KNO3) dapat menjadi solusi untuk mengatasi kerontokan buah. Pemberian pupuk yang mengandung kalium harus dilakukan seawal mungkin, sebelum pembungaan berlangsung dan pasca persarian selesai sehingga pemanfaatan unsur hara oleh tanaman dapat terjadi secara optimal. Pada beberapa kasus, pemberian pupuk fosfat yang dikombinasikan dengan kalium (pupuk MKP, mono kalium phosphate, KH2PO4 misalnya) sangat membantu tanaman untuk berbunga dan berbuah dengan normal karena pasokan kalium diberikan dalam jumlah lebih sedikit, namun diberikan bersamaan dengan pemberian fosfat yang sangat dibituhkan tanaman saat memasuki periode vegetatif untuk berbunga dan berbuah. Pasokan air sebagai salah satu komponen utama dalam proses fotosintesis juga akan sangat membantu mencegah timbulnya masalah kerontokan bakal buah. Pasokan air yang cukup jangan diartikan bahwa tanaman harus mendapatkan air dalam jumlah berlebihan, namun harus dimaknai bahwa kondisi tanah di sekeliling media tanam haruslah selalu berada dalam keadaan lembab (bukan becek, apalagi tergenang), untuk memastikan bahwa pasokan air selalu tersedia saat dibutuhkan oleh tanaman untuk proses persarian, pembesaran dan pemasakan buah. Ketersediaan kalium dan fosfat yang baik akan lebih bermakna bagi tanaman jika ketersediaan air juga mencukupi, sehingga proses pembentukan dan pengisian buah akan berlangsung dengan baik pula.


Kerontokan karena faktor biologis :
Pasca persarian bunga, seharusnya diikuti oleh pembentukan bakal buah yang akan berkembang menjadi buah sempurna, namun sering terjadi bakal buah rontok karena terserang beberapa jenis hama maupun penyakit buah. Hama-hama ini umumnya menyerang, dimulai pada saat pembentukan kelopak bunga hingga pembentukan bakal buah pasca persarian bunga. Beberapa hama berwujud ulat yang memakan bakal buah yang baru terbentuk, hama penggerek berupa serangga yang menghisap cairan sel bakal buah yang baru terbentuk, serta beragam jenis kutu penghisap cairan sel yang mengeluarkan sejenis madu yang disukai oleh semut. Simbiosis antara kutu dengan semut ini menimbulkan gejala lapisan hitam (embun jelaga) di sekujur bakal buah dan daun di sekelilingnya. Selain merusak buah muda, tampilan tanaman secara keseluruhan juga menjadi jelek karena lapisan jelaga hitam terlihat mengotori tanaman. Selain itu, jelaga hitam juga menghalangi daun tanaman untuk berfotosintesis dengan normal, dan mengurangi jumlah fotosintat yang terbentuk untuk disimpan sebagai cadangan bahan kering (biomassa) di dalam tubuh tanaman.

Kerontokan karena faktor fisik :
Di musim penghujan dengan curah hujan yang tinggi, yang mengguyur terus-menerus dengan intensitas jangka waktu panjang, menjadi penyebab utama rontoknya bunga atau bakal buah pasca persarian. Dalam kondisi basah, benangsari (alat kelamin jantan pada bunga) lengket satu sama lain karena terikat oleh air, benangsari tidak bisa bertemu dan membuahi kepala putik (alat kelamin betina pada bunga). Sebaliknya di musim kemarau, suhu panas yang ekstrim disertai dengan pengaruh kelembaban yang rendah di siang hari, juga menjadi faktor fisik penyebab kegagalan persarian, karena pada suhu ekstrim, viabilitas atau daya hidup dan vigor benangsari menjadi sangat rendah (singkat) sehingga sulit bagi benangsari untuk tetap viabel dan membuahi kepala putik. Akibat kedua penyebab utama ini, bunga akhirnya layu dan gagal membentuk bakal buah karena proses persarian bunga tidak berlangsung secara normal.

Selain faktor-faktor tersebut di atas, pada tanaman-tanaman tertentu, terdapat selisih waktu yang cukup nyata antara pemasakan benang sari (alat kelamin jantan) dan kepala putik (alat kelamin betina), artinya, benang sari masak lebih awal atau bahkan masak lebih lambat dari masaknya kepala putik. Perbedaan waktu pemasakan inilah yang menjadi penyebab kegagalan persarian pada tanaman karena benang sari tidak dapat membuahi kepala putik. Akibatnya, bunga langsung layu beberapa waktu setelah bunga mekar. Pemberian beberapa senyawa kimia, misalnya gibberelic acid (GA3), dapat merangsang terjadinya pemasakan benangsari yang serempak dengan pemasakan kepala putik atau sebaliknya, yang bertujuan untuk meningkatkan persentase keberhasilan persarian/pembuahan dan pada akhirnya akan meningkatkan pula persentase bunga menjadi bakal buah. Aplikasi GA3 konsentrasi sangat rendah (misalnya, kurang dari 200 ppm/bpj : bagian per juta) dapat dilakukan sebelum atau pada saat masa pembungaan berlangsung, diaplikasikan dengan cara penyemprotan bakal bunga maupun dengan cara pengocoran ke akar tanaman, akan sangat tergantung kepada jenis tanaman yang diperlakukan.

Pada beberapa tanaman, kegagalan persarian bunga dan tentu saja tidak akan diikuti oleh pembentukan bakal buah juga bisa terjadi karena ketidak hadiran serangga penyerbuk (entomogami), sehingga relatif sulit bagi benang sari bunga untuk menyerbuki kepala putik. Peranan angin sebagai salah satu penyebab terjadinya persarian bunga (anemogami) juga minimal, sehingga perlu dilakukan penyerbukan buatan dengan bantuan tenaga manusia, contoh pada tanaman panili, beberapa varietas salak, serta varitas buah naga. Benangsari dari bunga yang mekar diambil menggunakan kuas dan benangsari yang terkumpul kemudian dikuaskan ke kepala putik saat kepala putik siap untuk dibuahi, sementara pada salak diambil bunga jantan yang matang dan dilekatkan sambil dioles-oleskan ke bunga betina agar terjadi persarian atau perkawinan. Dengan proses artifisial ini diharapkan terjadi persarian bunga dan dari persarian tersebut tentu saja diharapkan muncul bakal buah yang akan berkembang menjadi buah sempurna. Tanpa persarian buatan, bunga akan mekar lalu kemudian layu dan rontok begitu saja.

Share:

Selasa, 17 Maret 2015

Teknik Okulasi Sambung Sisip Tanaman Buah


Okulasi adalah sebuah kata yang sangat populer di kalangan para pecinta tanaman, khususnya pecinta tanaman buah, termasuk para penangkar bibit (grower). Populer, itu karena mayoritas bibit tanaman buah yang dihasilkan dan beredar secara luas di Indonesia adalah bibit yang diperbanyak dengan cara okulasi atau tempel mata, meski sebenarnya cara okulasi bukan satu-satunya cara untuk memperbanyak tanaman. Okulasi juga ternyata kurang begitu populer bagi kalangan pecinta tanaman khususnya di Jawa Timur dan Kalimantan Barat, sebab dari kedua daerah tersebut, cara sambung pucuk (top grafting) adalah cara yang paling banyak digunakan dibanding cara-cara perbanyakan tanaman lainnya. Di beberapa daerah lainnya, sambung susuan (approach grafting) justru menjadi cara perbanyakan yang paling disukai.

Topik ini tidak mengulas okulasi karena pendapat dari beberapa penangkar, okulasi adalah cara yang relatif sulit karena menuntut kemampuan teknis yang lumayan tinggi alias agak njlimet kata orang Jawa (padahal sebenarnya tidak), serta pertumbuhan mata tunas yang relatif lebih lambat (bagi orang yang kurang sabar). Mengambil (kadang harus dengan cara mencongkel) mata tunas memang bukan hal mudah bagi pemula dan penghobi yang jarang bersentuhan dengan cara atau teknik ini. Jika proses okulasi mata tunas yang ditempelkan berhasil, dibutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk menumbuhkan mata tunas tersebut menjadi calon batang dan cabang. Oleh karena itu, dicari teknik baru yang relatif lebih sederhana dibanding okulasi di satu sisi dan di sisi lainnya, cara yang relatif lebih sederhana tersebut bisa menghasilkan bibit tanaman baru yang pertumbuhannya lebih cepat bongsor dibanding bibit hasil okulasi.

Sambung sisip sebenarnya bukan teknik baru karena cara ini sebenarnya hanya memodifikasi teknik sambung mata alias okulasi. Dikatakan modifikasi karena "step by step" hampir mirip dengan okulasi, namun jika pada teknik okulasi yang ditempelkan adalah mata tunas, maka pada sambung sisip yang ditempelkan adalah ranting muda. Jika pada teknik okulasi hanya menempelkan 1 mata tunas saja, maka pada sambung sisip dapat ditempelkan ranting muda dengan lebih dari 1 mata tunas, bisa 2 mata tunas sekaligus, bahkan lebih. Dengan demikian, jika mengandung lebih dari 1 mata tunas, maka titik percabangan rendah dapat direkayasa dari awal, sejak bibit tersebut dibuat, karena bibit dengan percabangan rendah atau percabangan yang langsung muncul di titik sambungan akan menghasilkan tanaman yang rendah namun kompak, rimbun, dan dengan tajuk yang membulat, satu model yang sangat ideal untuk para penghobi tanaman buah dalam pot maupun untuk penanaman di lahan. Jika penempelan ranting muda berhasil, pertumbuhan tunas dari ranting muda tersebut juga cenderung lebih cepat dibanding tunas yang muncul dari penempelan mata pada okulasi, dengan demikian hal ini menjadi solusi bagi mereka yang menginginkan pertumbuhan bibit yang lebih cepat bongsor.



Berikut adalah tahapan-tahapan dalam proses sambung sisip :
(contoh foto tutorial adalah sambung sisip pada tanaman klengkeng)






Siapkan batang bawah yang pertumbuhan tanamannya sehat, daun di bagian ujung tunas telah berkembang sempurna dan berwarna hijau tua. Itu tanda bahwa tanaman sedang berada dalam keadaan dorman, tidak terjadi aktifitas pembelahan sel yang intensif di bagian tunas-tunas ujung tanaman. Dalam kondisi seperti ini, kambium tanaman berada keadaan maksimum, lapisannya kambiumnya tebal, dan sangat ideal untuk proses pengelupasan kulit batang dan penyambungan serta penyatuan entres.

Pilih titik penyambungan, kira-kira 15 hingga 25cm di atas pangkal batang, iris kulit batang di titik penyambungan tersebut memanjang dari atas ke arah bawah, sepanjang 3-5cm, dengan lebar 7-10mm.






Potong melintang kulit batang pada bagian atas, lalu congkel menggunakan mata pisau, kemudian tarik kulit batang pelahan dengan hati-hati agar tidak putus atau robek. Potong "lidah" kulit batang tersebut dengan menyisakan kulit batang sepanjang 1cm di bagian bawah yang nantinya berfungsi sebagai dudukan atau penyangga entres yang akan ditempelkan ke batang bawah.

Beberapa kasus memperlihatkan bahwa kulit batang tidak dapat dikelupas dan lengket saat ditarik, ini adalah tanda bahwa lapisan kambium batang bawah berada dalam keadaan minimum dan sangat tipis. Batalkan penggunaan batang bawah tersebut dan suburkan kembali pertumbuhannya agar dapat digunakan kembali sebagai batang bawah setelah pertumbuhannya disuburkan beberapa waktu kemudian.



Siapkan entres yang diambil dari ranting bagian ujung dari pohon induk terpilih. Entres harus cukup muda dengan kulit berwarna hijau atau hijau keabuan. Potong semua daunnya dan sisakan tangkai daun sepanjang kurang lebih 5mm yang berfungsi untuk melindungi mata tunas di bagian ketiak tangkai daun saat plastik pengikat dililitkan ke titik sambungan.

Jangan gunakan entres yang kulitnya telah berwarna cokelat tua atau coklat keabuan karena daya regenerasi entres seperti telah menurun, sehingga kemampuannya untuk menumbuhkan tunas lebih rendah dibanding yang diambil dari tunas muda di bagian ujung.

Entres bisa dipilih mulai dari bagian pucuk hingga bagian bawah dengan 1-4 mata tunas, yang penting kulit entres masih berwarna hijau atau hijau keabuan.



Potong entres dengan 1-3 mata tunas, lalu iris miring sepanjang 2cm pada bagian pangkalnya dan usahakan agar pengirisan tersebut hanya dilakukan dengan prinsip "sekali iris langsung jadi". Pengirisan berkali-kali bisa membuat entres menjadi sangat pendek ukurannya sehingga sulit untuk ditempelkan, selain itu pengirisan berulang-ulang bisa menimbulkan resiko memar jaringan yang akhirnya memperkecil persentase keberhasilan penyambungan tersebut.



Letakkan entres yang telah disayat bagian pangkalnya, persis berhadapan dengan bidang sayatan kulit batang bawah yang telah disiapkan sebelumnya, lalu tempelkan dengan tepat sehingga terjadi pertemuan antara bidang iris entres dengan bidang sayatan kulit batang bawah . Umumnya, entres tidak akan jatuh karena terjepit oleh "lidah" kulit yang disisakan sebagai dudukan atau penyangga entres.




Jepit titik sambungan dengan ibu jari tangan agar entres tidak bergeser atau berubah posisinya. Pergerakan entres yang berulang-ulang akan mengurangi tingkat keberhasilan penyambungan karena bidang pertemuan entres dan batang bawah mengalami memar, khususnya di bagian jaringan kambium batang bawah.






Ikat bidang sambungan menggunakan irisan plastik PE (polyethilene) yang tipis namun sangat lentur dan kuat. Ikatan dimulai dari bawah, sekitar 5mm dibawah sambungan, melingkar sambil menarik plastik ke arah atas, menutup rapat seluruhnya hingga kira-kira 5mm di atas entres yang ditempelkan.



Keseluruhan bidang sambung dan entres telah tertutup rapat oleh lilitan plastik sehingga mengurangi infiltrasi air dari luar yang bisa membuat entres membusuk, sekaligus lilitan plastik tersebut membuat iklim mikro menjadi tetap lembab. Fungsi lain dari lilitan plastik ini adalah mengurangi laju penguapan air (evapotranspirasi) akibat metabolisme entres sehingga akhirnya entres tetap berada dalam kondisi segar.




Gunakan plastik PE (polietilen) yang tipis, sangat lentur, namun kuat sebagai pengikat. Plastik yang digunakan sebagai pengikat mempunyai ketebalan 0,02mm, berbentuk lembaran yang kemudian diris-iris menggunakan cutter, berukuran lebar 2-3cm dan panjang 10-15cm, disesuaikan dengan diameter batang bawah yang akan disambung sisip 




Bariskan dengan rapi semua bibit yang telah disambung sisip di tempat terbuka untuk memudahkan pemeliharaan selama proses sambung sisip berlangsung.








Empat minggu pasca penyambungan, plastik pengikat dapat dibuka seluruhnya. Jika entres tetap segar dan berwarna hijau atau kehijauan, berarti sambungan berhasil, namun jika entres menghitam dan mengering, hal tersebut adalah tanda bahwa proses penyambungan gagal. 

Jika sambungan berhasil, biarkan 2-4 hari, setelah itu potong setengah batang bawah setinggi 5-8cm di atas titik penyambungan. Setelah dipotong setengah, tekuk batang atas ke arah bawah untuk merangsang tunas agar tumbuh dengan cepat karena entres telah menyatu dengan batang bawah.






Tunas akan tumbuh dengan cepat pasca pemotongan batang utama (batang bawah) 5-8cm di atas titik sambungan. Penyinaran sinar matahari penuh akan merangsang laju pertumbuhan tunas menjadi batang baru dengan cabang, ranting dan daun baru yang sempurna.










Tunas akan tumbuh dan berkembang sempurna 10-12 minggu pasca penyambungan



 
klengkeng Diamond River "Jenderal" hasil perbanyakan sambung sisip
 

Berikut ini adalah tampilan beberapa bibit tanaman buah yang dibuat dengan menerapkan teknik sambung sisip, dengan tunas yang telah tumbuh dan berkembang sempurna


















Share:

Senin, 16 Maret 2015

Keunggulan Pertanian Organik


Dari data yang pernah dilaporkan beberapa lembaga pertanian organik memiliki kelebihan atau keuntungan dibandingkan dengan pertanian nonorganik. Namun demikian data tersebut masih perlu diteliti dan diuji tingkat keakurasiannya dalam kondisi beragam dan skala yang lebih luas.

Beberapa keuntungan dari pertanian organik antara lain :

Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan Organisme Pengganggu Tanaman
Pemberian pupuk organik menjadikan vigor akar dan batang tanaman lebih kokoh sehingga menurunkan serangan beberapa organisme pengganggu tanaman seperti : nematoda bintil akar pada tanaman tomat dan tanaman padi lebih tahan terhadap serangan hama.

Meningkatkan aktivitas mikroorganisme antagonis
Pemberian pupuk organik dapat meningkatkan populasi mikroorganisme yang menguntungkan bagi tanaman seperti rhizobium dan mikoriza.


Membantu mencegah erosi
Pemberian pupuk organik membantu menurunkan tingkat erosi pada tanah yang mudah terkikis oleh air dan angin. Penambahan bahan organik akan merangsang pertumbuhan fungi, bakteri dan aktinomicetes. Mycelium dan eksudatnya menjadikan struktur tanah lebih kompak.

Meningkatkan cita rasa
Beras menjadi lebih pulen, singkong lebih terasa gembur, dan buah-buahan lebih manis.

Menaikkan kandungan gizi
Pemberian pupuk organik dapat meningkatkan kandungan protein pada tanaman kacang-kacangan hingga 14%.

Memperbaiki tekstur buah
Pupuk organik menyebabkan penampakan kulit buah strawberry dan cabai lebih mengkilap.

Memperpanjang masa simpan
Pemberian pupuk organik dapat memperpanjang masa simpan karena buah tidak cepat busuk.
Share:

Minggu, 15 Maret 2015

Pupuk Organik Sebagai Pendukung Pertanian Organik


Pupuk organik merupakan salah satu pendukung terwujudnya pertanian organik. Secara umum pertanian organik dibagi menjadi dua, yaitu pertanian organik merupakan pola pertanian yang bebas dari penggunaan bahan-bahan kimia, mulai dari perlakuan benih, penggunaan pupuk dan pestisida, sampai perlakuan hasil panen.


Sementara pertanian organik dalam artian yang lebih luas adalah kombinasi penggunaan produk organik (seperti pupuk organik dan pestisida nabati) dengan bahan kimia pada batas-batas tertentu. Dengan demikian pertanian organik dalam arti yang lebih luas merupakan pendekatan pertanian berkelanjutan yang berwawasan lingkungan melalui pemupukan berimbang dan penentuan ambang batas pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Pembudidayaan organik secara murni membutuhkan waktu dan perencanaan jangka panjang. Indonesia saat ini mengarah pada pertanian organik dalam arti luas.
Share:

Jumat, 30 Januari 2015

Cara Mudah Bertanam Mentimun

Mentimun adalah tanaman yang menjalar, hidupnya sernusim, biasanya dimakan buahnya. Buahnya yang mentah dimakan sebagai lalap, rujak, asinan, gado-gado, dan yang Iainnya. Adakalanya dimasak dan dibuat acar mentimun, atau campuran sayur lodeh. Selain itu, mentimun atau sangat berguna untuk menyernbuhkan berbagai penyakit, seperti darah tinggi, sariawan, panas, dan buah yang masih muda kadang digunakan sebagai pemhersih kulit muka.

Mentimun sangat mudah untuk ditanam di pekarangan, di tegalan, di sawah, bahkan pada pot juga bisa. Adapun jenis mentimun yang biasa ditanam. di antaranya mentimun biasa, mentimun wuku, dan mentimun watang. Yang digunakan untuk pelengkap minuman sirop yaitu mentimun sun (Sunda: bonleng sun).

Tanah yang baik untuk bertanam mentimun adalah tanah yang tidak berbatu, tanah subur yang mengandung humus, ditanam pada daerah yang berhawa panas maupun dingin. Sebaiknya, mentimun ditanam pada akhir musim hujan. 



Pengolahan Tanah dan Penanaman
Setelah mendapatkan lahan untuk bertanam mentimun, langkah awal yang dikerjakan adalah mengolah tanah dengan jalan mencangkul atau membajak tanah sedalarri 25—30 cm, membuang rerurnputan maupun bebatuan yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Selanjutnya, tanah diratakan dengan cangkul atau garuk dan dibuat bedengan-bedengan yang panjangnya disesuaikan dengan lahan, lebar lebih kurang 115 m, tinggi Iebih kurang 30 cm.

Pada setiap bedengan dibuatkan lubang-lubang yang telah diberi pupuk kandang atau kompos untuk menanamkan benih yang berasal dari biji mentimun yang sudah tua, kering, terbebas dan hama penyakit, dan telah direndam sebelumnya selama sehari semalam untuk memudahkan pertumbuhan.
Agar terlihat teratur dan memenuhi kebutuhan makannya, mentimun ditanam dengan jarak yang teratur pada lubang yang telah disediakan, masing masing diisi dengan 2—3 benih biji, lalu ditutup dengan tanah.

Pemeliharaan
Agar mendapatkan hasil yang baik, perlu dilakukan pemeliharaan tanaman yang meliputi penyirarnan, pembuatan ajir, dan pemupukan.

  • Penyiraman perlu dilakukan, terutama pada musim kemarau sehingga tidak layu dan dilaksanakan pagi dan sore. 
  • Pembuatan ajir dibuat dan kayu atau bambu sebagai tempat merambat tanaman untuk menghindari busuknya bunga terhadap tanah, dan penyerapan sinar matahari untuk merangsang tumbuhnya buah yang lebih baik.
  • Pemupukan dlakukan yaitu pada waktu tanaman berumur 3 minggu dan 5 minggu. 
  • Jenis pupuk yang biasa digunakan, yaitu pupuk kandang. pupuk kompos, atau pupuk buatan, seperti urea, TSP, KCI, dan NPK.


Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama yang menyerang tanaman mentirnun, di antaranya kutu daun, oteng-oteng. ulat, lalat buah, dan bekicot. Pengendaliannya disemprot dengan hama insektisida, misalnya dengan Diazinon,
kecuai bekicot dikendalikan dengan menaburkan garam pada bedengan.

Penyakit yang menyerang tanaman mentimun, di antaranya penyakit layu yang disebabkan bakteri dan virus, pengendaliannya dicabut dan dibakar. Penyakit jamur embun, dicegah dengan penyemprotan fungisida, misalnya Antracol.

Panen
Panen pertama dilaksanakan setelah tanaman memiliki buah mentimun yang kulitnya sudah mengkilap dan mempunyai pupus warna putih kira kira berumur 6—8 minggu. Panen seterusnya dilaksanakan bertahap karena masa berbuahketimun bisa mencapai 3 bulan.
Share:

Cara Mudah Budidaya Kubis

Kubis atau kol adalah salah satu sayuran yang banyak mengandung vitamin dan mineral. Sayuran ini dibawa oleh orang Eropa ke Indonesia. Sayuran kubis dapat dimakan mentah dan disatukan dengan sayuran yang lain untuk membuat gado-gado, pecel, atau sayuran tambahan pada masakan mi.
Jenis kubis yang biasa ditanam ialah kubis krop atau kubis telur, kubis daun atau kubis stek, kubis bunga, kubis tunas atau kubis babat, dan kubis berumbi atau kolrabi.

Pengolahan tanah yang pertama dilakukan adalah penyiapan lahan untuk pesemaian, yaitu kita menentukan lahan yang akan digunakan pesemaian, lalu dicangkul dengan kedalaman 25—30 cm.
Apabila bedengan telah selesai, dibuat atap penutup menghadap ke timur agar terkena sinar matahari. 



Penyakit yang biasa menyerang, yaitu:

Penyakit akar bengkak, pencegahannya dengan menggunakan bibit yang baik.


Pengolahan Tanah dan Penanaman
Kemudian, dihaluskan dan diratakan, sekaligus dibersihkan dan rerumputan dan diberikan pupuk kandang atau pupuk kompos halus yang telah dicampur dengan pasir. Setelah itu, dibuatkan bedengan.

Sekarang, kita semaikan biji atau stek kubis dengan jarak 3—4 cm, lalu ditutup dengan kompos dan tanah halus. Biji yang akan digunakan ialah bibit yang diperoleh dan pasar atau dan tanaman sendiri yang memiliki daya tumbuh baik dan sehat dan serangan hama penyakit.

Selanjutnya, kita kerjakan pengolahan lahan untuk tanam. Pertama, tanah dicangkul atau dibajak dengan kedalaman 25—30 cm. Lalu, dihaluskan dan diratakan. Kedua, buat bedengan-bedengan sambil dibuatkan lubang-lubang tanam yang diberi pupuk kandang atau kompos dengan jarak baris Iebih kurang 60—70 cm. Ketiga, pindahkan bibit yang ada di pesemaian ke dalam lubang tanam setelah bibit berumur 3—4 minggu, dan tutup dengan tanah gembur.

Pemeliharaan tanaman kubis, meliputi pemupukan, penyiangan, dan pengairan.
Pemupukan yang pertama sudah dilaksanakan pada waktu tanam. Pemupukan kedua yaitu 1 minggu setelah tanam, diberikan pupuk urea sekitar setengah sendok teh per tanaman. Pemupukan ketiga setelah tanaman berumur 2 minggu dengan pupuk urea, sekitar setengah sendok teh per tanaman, dan ditaburkan pada setiap lubang sekeliling tanaman dengan jarak Iebih kurang 4 cm. Pemupukan keempat dilakukan pada saat tanaman berumur umur 3—4 minggu.

Penyiangan dilaksanakan setelah terlihat rerumputan di sekitar tanaman tumbuh dan dilaksanakan beberapa kali.

Pengairan dilaksanakan dengan penyiapan parit-parit di tepi bedengan guna mengendalikan air di musim hujan, dan penyiraman tanaman dilakukan tiap pagi dan sore apabila musim kemarau.

Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama yang sering menyerang tanaman kubis ialah ulat tritip, ulat titik tumbuh, dan Aphis kubis. Pengendalian hamanya yaitu disemprot dengan i nsektisida.
Penyakit busuk hitam, pencegahannya di antaranya menggunakan bibit yang baik yang

Penyakit busuk lunak, pengendaliannya dengan mencabut dan membakar tanaman.

Panen

Kubis pada umumnya dipanen setelah berumur, dengan cara memotong kropnya berikut batangnya sepanjang 4—5 cm.
Share:

Pengikut